Warga Bantaran Kali Pepe Gandekan Belum Mau Pindah, Ini Alasannya

Rumah di bantaran Kali Pepe, Gandekan, Solo. (Solopos/Dok)
05 Juli 2018 13:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Warga Kelurahan Gandekan, Jebres, Solo, yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 1 (Kali Pepe hilir) hingga kini belum juga pindah dari bantaran Kali Pepe. Alasannya, rumah baru mereka di Dusun Padasan, Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, belum kelar dibangun.

Warga berkukuh baru bersedia pindah setelah rumah baru tersebut siap dihuni. Wakil Ketua Pokja Relokasi Warga Gandekan, Samiran, mengatakan proses pembangunan rumah baru bagi warga Gandekan di Mranggen sudah hampir selesai. Dia memperkirakan progres pembangunan rumah baru itu sekarang telah mencapai 85% lebih.

Samiran menyebut warga baru mau pindah ke Mranggen jika proses pembangunan rumah mencapai 100% atau setidaknya 95% lebih. “Untuk pindah, warga memutuskan menunggu lebih dulu sampai semuanya komplet baik bangunan rumah maupun sarana pendukung di sekitar rumah,” kata Samiran saat diwawancarai Solopos.com, Senin (2/7/2018).

Samiran mengungkapkan proses pendirian bangunan inti rumah bagi warga Gandekan  di Mranggen sebenarnya sudah rampung. Hanya, warga belum bersedia pindah karena sarana pendukung rumah belum selesai digarap, yakni jalan dan selokan atau parit perumahan.

Dia memperkirakan infrastruktur pendukung tersebut baru bisa selesai dikerjakan paling lambat pada Agustus. Jika semua sarana itu telah terpenuhi, warga akan mulai membongkar rumah lama di bantaran Kali Pepe dan pindah ke rumah baru di Sukoharjo.

“Ini kami tinggal bikin jalan dan saluran air. Harapan kami tentu semua pekerjaan bisa selesai secepatnya. Kami juga ingin mendukung pelaksanaan proyek Penanganan Banjir Kota Solo oleh BBWSBS [Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo],” jelas Samiran.

Seperti diketahui, warga bantaran Kali Pepe wilayah Gandekan  membeli tanah dan membangun rumah baru di Mranggen dengan memanfaatkan dana bantuan sosial (bansos) dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Masing-masing pemilik bangunan di bantaran mendapat bansos Rp34,2 juta.

Samiran merasa Pemkot Solo tak pernah mendesak warga untuk mempercepat proses pembanguan rumah baru di Sukoharjo maupun meminta segera membongkar rumah lama di bantaran Kali Pepe. Dia menilai Pemkot Solo memahami pilihan warga yang memutuskan baru akan pindah setelah rumah baru selesai dibangun.

“Kalau dikejar-kejar, saya rasa tidak. Pemkot maupun BBWSBS tidak menekan kami untuk bisa segera pindah. Ya saya rasa mereka memahami. Kami masih menunggu proses pembangunan rumah biar selesai semuanya,” ujar Samiran.

Nasib berbeda dialami sejumlah warga Kelurahan Nusukan yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe hulu). Mereka harus pindah dari rumah meski rumah baru mereka belum selesai dibangun. Akibatnya mereka harus mengontrak rumah terlebih dahulu atau menumpang tinggal di rumah saudara sambil menunggu rumah baru selesai dibangun.

Hal itu juga yang dialami Anto, 52, salah satu warga bantaran Kali Anyar di wilayah RT 005/RW 005 Nusukan, Banjarsari. Dia mengaku diminta segera pindah dari bantaran Kali Anyar. Padahal proses pembanguan rumah baru di Dusun Kedunggupit, Sawahan, Ngemplak, Boyolali, belum selesai.