Puluhan Pompa Hidran Rusak Hambat Penanganan Kebakaran Solo

ilustrasi pompa hidran. (Solopos/Dok)
05 Juli 2018 18:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Puluhan pompa hidran di Kota Bengawan rusak dan tak berfungsi karena ulah tangan jahil. Selain itu di beberapa kasus posisi pompa hidran terletak di bawah tanah dan tertutup lapak pedagang kaki lima (PKL).

Kondisi tersebut berpotensi menghambat upaya petugas memadamkan api saat terjadi kebakaran. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) Solo Gatot Sutanto menuturkan banyaknya pompa hidran yang rusak mengakibatkan kerja pemadam kebakaran tak optimal. Padahal diperlukan penanganan cepat saat terjadi kebakaran.

“Total dari 103 hidran yang tersebar di Solo, ada puluhan yang bermasalah,” katanya ketika berbincang dengan wartawan di Balai Kota, Rabu (4/7/2018).

Beberapa temuan pompa hidran bermasalah seperti kopling hilang karena tangan jahil. Padahal kopling ini berfungsi sebagai konektor hidran ke selang sehingga pompa hidran tidak bisa berfungsi saat diperlukan. Gatot menyebut beberapa lokasi pompa hidran rusak seperti di Bundaran Monumen Pers.

Tak hanya kasus pompa hidran rusak, ada pula pompa hidran yang berada di dalam bangunan rumah warga di Mojosongo serta di bawah meja PKL. “Kondisi-kondisi ini yang membuat kerja kami [petugas damkar] terganggu,” katanya.

Gatot berencana menginventarisasi ulang pompa hidran dan posisinya di Kota Bengawan. Langkah ini sebagai upaya Pemkot Solo memetakan keberadaan pompa hidran di Kota Solo sebab hal ini berkaitan dengan penanganan bencana kebakaran.

Gatot mengakui selama ini penanganan kebakaran kerap terhambat karena lokasi kebakaran berada di gang-gang sempit dan kawasan padat penduduk. Merujuk pemetaan wilayah, 50% kondisi lingkungan permukiman di Kota Solo padat penduduk dan berada di gang sempit yang berakibat mempersulit penanganan saat terjadi bencana kebakaran.

Kawasan padat penduduk tersebut tersebar di Kota Bengawan. Beberapa kawasan itu di antaranya Mojosongo, Baluwarti, Laweyan, Kauman, Semanggi, Jagalan, Gandekan, Sangkrah, Jajar, Bumi, Pajang, dan lainnya.

“Supaya penanganan kebakaran bisa cepat diatasi, solusinya pompa hidran harus dibuat di kawasan padat penduduk,” katanya.

Tak hanya itu Pemkot juga berencana menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) di tiap RW. Satu RW minimal memiliki satu APAR yang bisa digunakan untuk penanganan pertama kebakaran. Ke depan penyediaan Apar akan dilanjutkan hingga ke tingkat RT, yaitu satu RT memiliki satu APAR.

Tahun ini, Pemkot Solo baru menyerahkan bantuan satu unit APAR untuk masing-masing kelurahan. “Nanti kami akan menggandeng perusahaan lewat program CSR [social corporate responsibility] untuk bantuan APAR ke tiap RW, bahkan nanti tiap RT,” katanya.

Guna mengantisipasi kebakaran tersebut, Gatot mengaku terus memberikan sosialisasi dan simulasi kebakaran. Simulasi kebakaran ini diberikan kepada ibu-ibu rumah tangga, instansi pemerintahan, swasta, dan masyarakat. Tujuannya memberikan pengetahuan dan keahlian tentang teknik-teknik pencegahan dan penanggulangan kebakaran. “Supaya kasus kebakaran  di Solo ini terus menurun,” katanya.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo menilai pemasangan pompa hidran beserta kelengkapannya di lingkungan padat penduduk sangat mendesak dilakukan mengingat kawasan padat penduduk rawan terjadi bencana kebakaran. “Saya sudah minta ada pemasangan hidran terutama di lokasi padat penduduk,” kata Rudy, sapaan akrabnya.