Puluhan Mobil Taksi di Solo Ditarik Leasing, Salah Taksi Online?

ilustrasi taksi. (Solopos/Dok)
06 Juli 2018 05:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah pengemudi taksi pelat kuning di Solo mengeluh kini semakin sulit memperoleh penumpang. Hal itu berdampak pada sulinya mereka membayar uang setoran kepada manajemen koperasi atau perusahaan.

Seorang pengemudi Solo Taksi, Abdul Ghoni, menuding penyebab tergerusnya pendapatan pengemudi taksi pelat kuning adalah hadirnya layanan taksi online pelat hitam yang tak punya izin operasi. Dia meyakini jumlah pengemudi taksi online pelat hitam yang kini beroperasi di Solo sudah terlalu banyak sehingga merusak dinmika pasar layanan taksi.

Abdul menyebut, karena pemerintah tak kunjung juga turun tangan menertibkan pengemudi taksi online pelat hitam yang tak memiliki izin beroperasi, akhirnya pengemudi taksi pelat kuning yang menjadi korban.

"Sebelum ada taksi pelat hitam, ibaratnya saya bisa bawa uang bersih buat kebutuhan keluarga Rp100.000 sampai Rp150.000 per hari. Sekarang dapat Rp25.000 sehari saja sulitnya bukan main," kata Abdul saat ditemui Solopos.com di sela-sela menunggu penumpang di pangkalan seberang pintu keluar utara Terminal Tipe A Tirtonadi, Kamis (5/7).

Abdul menyebut minimnya pendapatan para pengemudi taksi pelat kuning dapat berbuntut panjang. Dia mencontohkan salah satunya yakni pengemudi tak bisa membayar uang setoran ke perusahan. Padahal uang setoran itu diperlukan untuk berbagai keperluan seperti menggaji karyawan atau operator, biaya perawatan kendaraan, hingga membayar angsuran pembelian kendaraan.

Hal itu juga yang dialami PT Central Taksi selaku pengelola Solo Taksi. Berdasarkan informasi yang dia peroleh, kata Abdul, puluhan taksi yang dikelola PT Central Taksi harus diambil leasing karena perusahan tak bisa mengangsur dengan lancar.

"Dua tahun lalu saat saya mulai bergabung itu masih ada 90 mobil. Tapi kini sudah menjadi rahasia umum kalau Solo Taksi tinggal 40 unit. Jumlah armada menyusut drastis. Kebanyakan diambil leasing karena perusahaan tak mampu membayar angsuran. Kami jelas memahami kondisi itu. Mereka tidak bisa membayar angsuran disebabkan oleh kami yang tak bisa membayar uang setoran dengan lancar," ungkap Abdul.

Pengemudi Solo Taksi lainnya, Nanang Agus R., 48, menyampaikan memang kini sangat sulit sekali bagi pengemudi taksi pelat kuning bisa memperoleh pendapatan lumayan. Dia bercerita sekarang untuk membayar uang setoran Rp175.000 per hari saja, para pengemudi harus bekerja selama dua hari sampai tiga hari.

Para pengemudi kesulitan mendapatkan hasil segitu dalam sehari narik. Bahkan para pengemudi harus rela berada di luar rumah selama 20 jam demi bisa menutup uang setoran dan uang operasional guna membeli bensin, makan, dan lain sebagainya.

"Bagaimana mau bayar uang setoran lancar? Pendapatan kami saja sekarang begini. Kadang malah harus dibela-belain di jalan selama 24 jam untuk bisa bawa uang ke rumah. Jadi memang sangat terasa sekali dampak dari keberadaan taksi pelat hitam yang sudah terlalu banyak. Mudah-mudahan pemerintah segera bergerak. Tidak tidur saja. Pemerintah harus membatasi kuota layanan taksi di daerah," jelas warga Palangjiwan, Colomadu, tersebut.

Tokopedia