PMI Solo soal Isu Kekosongan Stok Darah: Itu Hoaks!

Stok darah di PMI Solo, Kamis (5/7 - 2018). (Solopos/Nicolaus Irawan)
06 Juli 2018 12:40 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dokter sekaligus Konsultan Palang Merah Indonesia (PMI) Solo Titis Wahyuono menegaskan PMI tidak pernah kehabisan stok darah meski permintaan masyarakat tinggi. Pernyataan itu disampaikan Titis menanggapi isu di media sosial yang menyebut stok darah di PMI kosong.

Isu itu beredar cukup masif belakangan ini dan membuat PMI gerah. Dalam kesempatan jumpa wartawan di Kantor PMI Solo, Kamis (5/7/2018) siang, Titis memastikan pesan di media sosial yang menyatakan stok darah PMI kosong tidak benar alias hoaks.

"Kalau ada pasien sakit dan butuh darah biar darah itu jadi urusan PMI, pasti akan kami carikan," kata dia.

Masyarakat diminta untuk tidak cepat terpengaruh pemberitaan yang tidak jelas sumbernya. Dia mengatakan masyarakat bisa mengecek di website resmi atau nomor layanan pelanggan PMI untuk memastikan ketersediaan darah. "Intinya masyarakat jangan cepat resah," imbuh Titis.

Titis mengatakan persediaan darah di PMI akan dijaga pada zona aman minimal 1.000 kantong yang meliputi golongan darah A, B, AB, dan O. "Kalau di atas 1.000 berarti lampu hijau [dalam taraf aman], kalau mendekati 500 berarti emergency," kata Titis.

Untuk menjaga stok darah dalam taraf aman tersebut PMI  mengimbau seluruh masyarakat menjadi donor. PMI akan mengerahkan bus-bus donor untuk jemput bola mengambil darah sumbangan masyarakat.

CEO PMI Solo, Sumartono Hadinoto, menambahkan masyarakat tidak perlu khawatir mengenai kualitas darah dari PMI. Dia mengatakan kini PMI Solo telah mengantongi sertifikat Good Manufacturing Practices (GMP) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Saat ini baru terdapat tiga unit donor darah (UDD) yang mengantongi sertifikat itu. Kebutuhan darah di PMI Solo kini menduduki peringkat keempat tertinggi di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Penyebabnya, beberapa daerah di luar Kota Bengawan kerap meminta pasokan darah lewat PMI Solo, bahkan termasuk Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Trenggalek.

Soal kebutuhan darah segar, menurut Titis, tak semua penyakit membutuhkan darah kategori itu. "Darah segar yang langsung diambil dari donor adalah untuk penyakit-penyakit atau peristiwa yang langsung mengeluarkan darah, misalnya kecelakaan," kata Titis.

Dia mengatakan darah masih dapat dikatakan segar jika berumur maksimal empat hari. "Tapi menurut teori darah itu masih segar sampai berumur 35 hari, jadi masyarakat tidak perlu khawatir darah yang usianya tua-tua atau mendekati kedaluwarsa. Lagipula darah membutuhkan proses pengecekan sebelum sampai ke tubuh pasien," imbuhnya.

Dia mengatakan seharusnya tidak perlu terjadi salah pemahaman antara rumah sakit dan keluarga pasien terkait ketersediaan darah maupun kualitasnya. "Kalau dokter saja kadang terprovokasi oleh keluarga pasien, situasi bisa semakin panik. Tapi sebetulnya kekhawatiran keluarga itu tidak benar," kata Titis.