Kisah Inspiratif Warga Sukoharjo Rintis Es Teler Pertama Sejak 1967

Pemilik warung Es Teler Sari Mulia Asli, Samijem, berdiri di depan batu prasasti di halaman umahnya di Desa Juron, Nguter, Sukoharjo, Rabu (4/7 - 2018) malam. (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
06 Juli 2018 14:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Batu prasasti berwarna hitam setinggi sekitar dua meter berdiri tegak di halaman salah satu rumah di Desa Juron, Kecamatan Nguter, Sukoharjo. Gambar buahan-buahan seperti nangka, alpukat, dan kelapa menempel di bagian atas prasasti.

Di tengah prasasti tertera tulisan "Es Teler Sari Mulia Asli dan "Es Teler Pertama di Indonesia". Batu prasasti itu dibangun 10 tahun lalu di rumah milik Tukiman Darmowijono tersebut.

Tukiman merupakan pemilik warung Es Teler Sari Mulia Asli yang dirintis di Jakarta pada 1967. Sebelum berjualan es teler, Tukiman menjadi pedagang asongan berjualan rokok keliling di sekitar Menteng, Jakarta Pusat.

Pria mengajak istrinya, Samijem, mengadu peruntungan nasib di Ibu Kota. “Saya dan almarhum suami saya berpindah-pindah lokasi berjualan, tapi masih di sekitar wilayah Jakarta Pusat,” kata Samijem saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (4/7/2018) petang.

Samijem sempat berpisah dengan suaminya selama sekitar setahun. Saat itu, Tukiman nekat merantau ke Makassar, Sulawesi Selatan. Sekembalinya ke Jakarta, Tukiman dan Samijem berjualan jamu keliling di jalan-jalan kampung.

Suatu malam, Tukiman bermimpi ketemu seorang kakek yang memberi wejangan. Kakek itu meminta Tukiman agar berjualan minuman segar jika ingin sukses.

Tukiman lantas banting setir berjualan buah-buahan di pinggir jalan. Kala itu, seorang pembeli meminta agar dibikinkan campuran buah-buahan yakni alpukat, nangka, kelapa muda, dan sirup.

“Suami saya meracik buah-buahan yang dicampur susu, sirup, dan es dalam gelas. Ternyata, minuman itu sangat enak dan segar. Sejak itu, almarhum suami dan saya berjualan es teler. Kami kewalahan karena saking banyaknya pembeli yang ingin menikmati es teler,” ujar Samijem.

Saat itu, belum ada pedagang lain yang berjualan es teler di Indonesia. Mereka lantas membuka warung es teler yang diberi nama Sari Mulia Asli. Pasangan suami istri ini sempat merasakan pasang surut bisnis pada era 70an. Namun, berkat kegigihan  dan keuletan mereka, bisnis kuliner itu mampu tumbuh pesat.

Es Teler Sari Mulia Asli kini memiliki 14 cabang di wilayah Jakarta dan sekitarnya. “Bahan es teler itu hanya tiga buah-buahan yakni nangka, alpukat, dan kelapa muda. Kalau banyak buah-buahan namanya bukan es teler melainkan es buah,” terang dia.

Sejak Tukiman meninggal dunia pada era 1980-an, Samijem memilih pulang ke kampung halaman. Dia menutup separuh lebih warung cabang es teler yang dirintis bersama suaminya.

“Sekarang hanya ada dua cabang yakni di Megaria dan Cikarang yang dikelola  anak kedua dan keempat saya. Di Sukoharjo juga ada satu cabang,” papar dia.

Sementara itu, seorang pelanggan Es Teler Sari Mulia Asli asal Desa Madegondo, Kecamatan Grogol, Daniel, mengatakan rasa es teler Sari Mulia Asli berbeda dibanding es teler lainnya. Rasa manis sirup yang bercampur dengan buah-buahan sangat memanjakan lidah apalagi diminum saat siang hari.

 

Tokopedia