PPDB 2018: Sistem Penerimaan Siswa Gakin SMA Dinilai Tak Fair

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
06 Juli 2018 13:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru  (PPDB) 2018 jenjang SMA negeri khususnya untuk siswa dari keluarga miskin (gakin) dinilai tidak fair. Sistem tersebut merugikan para siswa dengan prestasi akademik bagus yang harus kalah saat berkompetisi dengan siswa gakin yang nilainya lebih rendah.

Sesuai aturan, siswa gakin akan langsung diterima di sekolah yang mereka tuju sesuai kuota berapa pun nilai mereka. “Sistem PPDB Jateng 2018 tidak fair karena memberi ruang berlebih bagi siswa miskin tanpa memperhatikan prestasi akademiknya. Kasihan siswa dengan nilai akademik bagus terpaksa kalah dengan siswa berlabel miskin. Sistem ini tidak mendidik, tidak kompetitif, karena asal miskin atau gakin langsung dari prioritas diterima,” ujar seorang warga peduli pendidikan di Sragen, Bangun Setiawan, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (5/7/2018).

Dia mengatakan memang benar siswa miskin harus dibantu tetapi kalau kemudian menggusur bocah rajin belajar gara-gara siswa miskin itu menunjukkan sistem yang sangat tidak fair. Dia khawatir sistem seperti ini justru akan mematikan etos belajar siswa.

“Bakat dan minat anak bukan cuma dari jalur pendidikan formal. Kalau siswa miskin punya bakat dan minat di mekanik atau masak atau apalah, dukung dan dorong ke arah sana dan difasilitasi. Siswa miskin tetapi pintar dan berprestasi itulah yang patut difasilitasi sebaik-baiknya,” tuturnya.

Dia menawarkan solusi setiap sekolah wajib menerima siswa gakin, digratiskan biaya pendidikan, disubsidi peralatan sekolah, dan lain-lain dengan kuota tertentu dan diperebutkan dengan seleksi khusus. Dengan sistem seperti itu, Bangun berharap siswa miskin yang benar-benar berbakat saja yang lolos sekolah formal.

Dia berpendapat mengentaskan kemiskinan tidak hanya lewat jalur pendidikan. “Banyak success story yang diawali dari kemiskinan. Kreativitas dan daya juang lebih penting. Sistem PPDB  2018 ini jelas mematikan hal-hal tersebut. Siswa miskin bakal malas belajar karena pasti lolos masuk sekolah negeri,” tuturnya.

Salah seorang guru PNS yang enggan disebut namanya juga berpendapat sama. Dia mengatakan sistem PPDB 2018 ini tidak mendidik karena Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) menjadi kartu sakti untuk masuk sekolah favorit.

Dia mengatakan mestinya sekolah dibiayai tetapi juga harus kompetitif tidak sekadar kuota dan nilai yang dipertimbangkan. “Masak nilai 18 pilih jurusan IPA di SMA negeri di Kota Sragen bisa masuk karena SKTM. Ini sungguh persaingan yang tidak fair. Orang miskin mungkin bukan pilihan dan bukan berarti orang justru bangga dengan kemiskinan. Setiap kebijakan memang ada kelebihan dan kekurangan tetapi mestinya kebijakan yang mendidik dengan risiko kecil,” tuturnya.

"Sistem yang lalu pernah berdampak pada guru yang susah mengajar karena anak tidak bisa mengikuti teman-temannya karena kemampuan terbatas. Kebijakan lebih parah ya sekarang asalkan miskin bisa pilih sekolah yang disukai dan harus diterima. Kadang yang mendaftar tidak mengukur diri dan lebih memprihatinkan lagi mentalnya yang rusak,” tambahnya.



Tokopedia