Belum Dapat Bantuan, RTLH Warga Tanon Ambruk Duluan

Puing-puing rumah Musrifah, 73, yang ambruk di Dukuh Canden RT 003, Desa Ketro, Tanon, Sragen, Jumat (6/7 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
06 Juli 2018 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Puing-puing reng dan usuk dari bambu yang sudah lapuk tertumpuk tak beraturan di pinggir jalan. Genting bekas ditata melingkar. Sementara puing papan bekas dinding rumah, pintu, bercampur dengan kayu sokoguru rumah tertumpuk di seberang jalan.

Semua material itu semula berdiri membentuk rumah milik Musrifah, 73, warga Dukuh Canden RT 003, Desa Ketro, Kecamatan Tanon, Sragen. Rumah itu roboh karena lapuk pada Kamis (5/7/2018) siang.

Musrifah sedang berada di halaman saat rumahnya sehingga selamat. “Suaranya kretek-kretek saat mau ambruk. Sudah sebulan saya tidak berani tidur di rumah itu karena takut ambruk,” ujar Musrifah yang hanya bisa pasrah melihat rumahnya rata tanah, Jumat (6/7/2018).

Masyarakat Dukuh Canden bersama delapan personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen bekerja bakti membersihkan puing-puing bekas rumah Musrifah. Para tetangga Musrifah iba dengan nasib yang menimpa nenek-nenek yang hidup sendirian di rumah itu.

Para warga laki-laki dan perempuan masih berkumpul di depan rumah Musrifah yang kini tinggal gundukan tanah berbentuk kotak berukuran 9 meter x 8 meter. Mereka berbincang seputar nasib Musrifah yang belum pernah tersentuh bantuan bedah rumah tidak layak huni (RTLH).

“Rumah Mbah Musrifah ini jelas tidak layak ditinggali. Selama ini kalau tidur, Mbah Musrifah memilih di tempat adiknya di sebelah rumah atau di tetangga dekatnya karena takut rumahnya roboh. Setelah rumah roboh baru dimintakan bantuan untuk rehab,” ujar Ketua RT 003 Canden, Suratno, saat berbincang dengan wartawan, Jumat pagi.

Sebenarnya pada 2018 ada bantuan bedah RTLH untuk tiga unit di wilayah Desa Ketro tetapi bantuan itu belum menyentuh rumah Musrifah. Suratno sudah mengajukan bantuan bedah rumah Musrifah jauh-jauh hari lewat bayan desa tetapi belum ada realisasinya.

“Kamis siang setelah rumahnya ambruk, Pak Camat juga datang melihat langsung. Katanya mau diupayakan untuk mendapat bantuan supaya rumah bisa berdiri lagi. Kami hanya bisa berharap bantuan karena sisa bangunan yang ambruk sudah tidak bisa digunakan untuk bangun rumah kembali meskipun sederhana,” tuturnya.

Selama ini, Musrifah hidup di rumah itu sendiri. Anak tunggalnya tinggal di dukuh sebelah. Untuk kebutuhan sehari-hari  dia masih bisa bekerja dengan membantu tetangga.

Suratno bersyukur ada bantuan sembako dari BPBD dan bantuan uang untuk biaya makan Rp300.000 dari Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kecamatan Tanon.