Guru SMP Klaten Bergerilya demi Penuhi Kuota PPDB

Calon siswa melakukan pendaftaran online ke SMAN 1 Klaten, Senin (2/7 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
06 Juli 2018 21:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kuota pendaftar calon siswa baru sejumlah SMP negeri di Kabupaten Klaten hingga pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)  online ditutup Rabu (4/7/2018) belum terpenuhi.

Agar kuota mereka terpenuhi, sekolah-sekolah tersebut mengerahkan guru-guru untuk bergerilya ke sekolah lain yang jumlah pendaftarnya melebihi daya tampung. Mereka mempromosikan sekolah ke calon siswa berpotensi tak diterima di sekolah yang mereka lamar.

Salah satu sekolah tersebut adalah SMPN 3 Karanganom. Dengan daya tampung 96 siswa, sekolah yang berada di Desa Blanceran, Kecamatan Karanganom, itu baru mendapat 12 calon siswa.

Kondisi nyaris serupa terjadi di SMPN 2 Prambanan di mana dari total daya tampung 160 siswa baru mendapat 69 pendaftar. Sementara di SMPN 2 Bayat, ada 74 calon siswa yang mendaftar dari total daya tampung 191 siswa. Di SMPN 3 Pedan ada 100 pendaftar dari total daya tampung 224 siswa.

Salah satu panitia PPDB SMPN 2 Prambanan, Ana Dwiasih Fajari, mengatakan SMPN 2 Prambanan masih menerima calon siswa dengan sistem pendaftaran offline. Ana menjelaskan sekolah itu sudah menyebar guru ke sekolah lain yang berpotensi kelebihan jumlah pendaftar.

Di sekolah itu, sekitar 18 guru yang ditugasi menawarkan kepada para calon siswa yang mencabut berkas pendaftaran agar mendaftar ke SMPN 2 Prambanan. Tak hanya SMP wilayah Klaten, sekitar 18 guru SMPN 2 Prambanan disebar hingga ke luar provinsi. Melalui cara tersebut, ia berharap jumlah pendaftar di SMPN 2 Prambanan bertambah.

“[Guru-guru] Ada yang di SMPN 1 Prambanan, SMPN 2 Prambanan, ada yang ke Gantiwarno. Ada pula yang sampai ke SMP di wilayah Sleman. Guru-guru menunggu di sekolah-sekolah itu ketika ada calon siswa yang mencabut berkas didekati dan ditawari mendaftar ke SMPN 2 Prambanan. PPDB tahun lalu dengan cara itu kami bisa mendapatkan tambahan 30-an siswa baru,” kata Ana saat ditemui di SMPN 2 Prambanan, Kamis (5/7/2018).

Ana mengatakan penyebab kuota sekolah itu tak terpenuhi beragam meski zonasi SMPN 2 Prambanan diperluas hingga ke sejumlah kecamatan di Kabupaten Sleman, DIY. Salah satunya lantaran sekolah itu berada di wilayah pelosok.

SMPN 2 Prambanan berada di bawah perbukitan Desa Pereng, Kecamatan Prambanan, yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Prambanan, Sleman, DIY. Jaraknya hanya terpisahkan jalan. “Tidak semua orang tua paham lokasi SMPN 2 Prambanan di wilayah perbatasan,” katanya.

Kepala SMPN 3 Karanganom, Budi Hartono, mengatakan sekolahnya juga masih bisa menerima calon siswa secara offline lantaran minimnya jumlah pendaftar. Namun, penerimaan siswa itu dilayani setelah ada pengumuman PPDB.

Kondisi serupa terjadi pada PPDB tahun lalu. SMPN 3 Karanganom hanya menerima 16 siswa. Meski jumlah pendaftarnya minim, Budi memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. “Untuk satu kelas saja tidak apa-apa,” katanya.

Lokasi SMPN 3 Karanganom yang berada di perbatasan dengan Kecamatan Ceper diduga menjadi penyebab minimnya pendaftar sekolah itu. Sebelumnya, para siswa yang sekolah di SMPN tersebut berasal dari Kecamatan Ceper.

“Lokasinya memang kurang menguntungkan. Dulu-dulunya itu banyak siswa dari Ceper. Setelah ada SMP di sana banyak yang dari Ceper sekolah di SMPN 3 Ceper,” urai dia.

Ketua musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SMP di Klaten, Wiyarto, menilai sistem zonasi yang diterapkan sudah tepat untuk pemerataan siswa. Dari sistem itu, tak ada lagi istilah sekolah unggulan lantaran kompetensi siswa di masing-masing sekolah beragam. Namun demikian, masih ada orang tua yang memilih mendaftarkan anak mereka ke sekolah yang dinilai favorit meski berada di luar zonasi.

“Tetapi masih ada pola pikir dari masyarakat kalau tidak di sekolah yang dinilai unggulan tidak. Sebenarnya dari sisi kompetensi guru di Klaten itu sudah merata,” kata Wiyarto yang juga Kepala SMPN 6 Klaten itu.