PPDB Solo: Disdik Banjir Komplain, 10 SMPN Kekurangan Siswa

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
07 Juli 2018 04:30 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sedikitnya 10 SMP negeri di Kota Bengawan tak bisa memenuhi kuota pada Penerimaan Peserta Didik Baru  (PPDB) online, Selasa-Kamis (3-5/7/2018). Dinas Pendidikan (Disdik) Solo akan memberikan solusi bagi sekolah yang kekurangan siswa setelah pengumuman PPDB online, Senin (9/7/2018).

Anggota Panitia PPDB Online Disdik Solo, Arip Wisnugroho, mengungkapkan PPDB online resmi ditutup Kamis pukul 14.00 WIB. Dari hasil PPDB online diketahui masih ada 10 sekolah yang kekurangan siswa. Sekolah yang kekurangan siswa tidak hanya sekolah pinggiran, tetapi juga di tengah kota.

“SMP di tengah kota yang kekurangan seperti SMPN 3 Solo. Dari kuota 232 siswa yang mendaftar hanya 110 siswa. Kurangnya 122 siswa. Kami belum selesai merekap kekurangan siswa di sepuluh SMP itu,” ujar Wisnu saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (6/7/2018).

Wisnu menjelaskan kekurangan siswa baru di SMPN 3 Solo sebenarnya sudah diprediksi sejak awal sebelum pelaksanaan PPDB online. Adanya isu SMPN 3 Solo akan dipindahkan ke lokasi lain menjadi penyebab utama minimnya peminat di sekolah itu.

“Kami mencatat baru kali pertama ini SMPN 3 Solo sampai kekurangan siswa. Hasil penelusuran sementara siswa di zona ini lebih memilih sekolah swasta dibandingkan sekolah negeri,” kata dia.

PPDB online SDN, lanjut dia, juga ada yang kekurangan siswa. Jumlah SDN yang kekurangan siswa masih didata. Pendataan sementara ada belasan SDN di Kota Bengawan kekurangan siswa.

“Semua berkas hasil seleksi PPDB online mulai dari SD dan SMP telah diserahkan ke Disdik. Kami langsung memasukkan semua data ke komputer agar tidak hilang. Dari data ini dapat diketahui berapa siswa yang belum mendapatkan sekolah,” kata dia.

Wisnu menjelaskan Disdik akan mencarikan solusi dengan memasukkan siswa yang tidak diterima ke sekolah yang kekurangan siswa dengan tetap mempertimbangkan zonasi. Kalau zonasi sudah terpenuhi akan diambilkan dari zona lain yang paling dekat dengan syarat orang tua siswa harus setuju.

“Sekolah yang kurang siswa pendaftarannya offline. Kapan pendaftaran offline mulai dibuka dan teknisnya seperti apa baru dibahas Disdik besok [Sabtu],” kata dia.

Disdik, lanjut dia, masih kebanjiran komplain dari orang tua siswa meskipun PPDB online telah ditutup. Komplain terbanyak adalah orang tua ingin mencabut berkas dengan jumlah 20 kasus. Komplain kedua, siswa belum dapat sekolah karena tidak mengisi pilihan satu dan dua sekolah lain saat mengisi formulir pendaftaran. Terakhir, soal nilai tinggi tidak bisa masuk sekolah tujuan karena zonasi.

“Kasus orang tua siswa mencabut berkas karena anaknya diterima sekolah swasta dalam pilihan ketiga saat mengisi formulir juga ada. Kemudian mengetahui ada SMPN kurang siswa, ada orang tua yang langsung ingin mencabut berkas agar bisa mendaftar sekolah negeri. Kami tidak bisa menyetujui orang tua mencabut berkas kalau anaknya sudah diterima sekolah lain,” kata dia.

Salah satu orang tua siswa, Sudirman, mengungkapkan awalnya mendaftarkan anak ke SMPN 5 Solo. Setelah melihat hasil akhir tidak diterima dan ternyata diterima di sekolah swasta pilihan lain.

“Saya tidak mau anak saya sekolah di swasta karena biayanya pasti mahal. Saya ingin mencabut berkas untuk mendaftar ke sekolah negeri yang masih kurang siswa namun ditolak Disdik dengan alasan berkasnya sudah masuk sistem komputer dan tidak bisa dicabut. Pencabutan baru bisa dilakukan saat pengumuman PPDB online nanti,” kata Sudirman.