Asal Usul Sonorejo Sukoharjo Ramai karena Bunga Cantik Joko Tingkir

Pengendara sepeda motor melewati taman di Kelurahan Sonorejo, Kecamatan Sukoharjo, Sukoharjo, Jumat (8/6 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
08 Juli 2018 15:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sonorejo merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. Wilayah Sonorejo berbatasan dengan wilayah Kelurahan Dukuh dan Kelurahan Sukoharjo.

Sebagian penduduk Sonorejo bermata pencaharian  sebagai petani, buruh dan pedagang. Sebagian lainnya merantau untuk mengadu peruntungan.

Di balik kemajemukan karakteristik masyarakat itu, Sonorejo menyimpan histori yang cukup menarik. Konon nama kelurahan tersebut berasal dari Bahasa Jawa yakni Sono yang bermakna tempat dan Rejo yang berarti ramai. Cerita rakyat asal usul Kelurahan Sonorejo diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun.

Cerita rakyat itu tak bisa dipisahkan dengan sosok Jaka Tingkir yang bernama asli Mas Karebet. Jaka Tingkir merupakan salah satu murid dari Sunan Kalijaga. Dia adalah putra Ki Ageng Pengging. Kala itu, Jaka Tingkir sedang menempuh perjalanan jauh menuju Demak.

Jaka Tingkir sendirian berjalan kaki puluhan kilometer melewati hutan belantara dan semak belukar. Dia berjalan kaki berhari-hari demi sampai di lokasi tujuan.

“Jaka Tingkir sampai di pinggir Sungai Bengawan Solo. Dia bingung untuk menyeberangi sungai itu lantaran tak ada perahu,” kata seorang sesepuh di Kelurahan Sonorejo, Warsidi, saat berbincang dengan solopos.com, Jumat (8/6/2018).

Tak dinyana, dia mengisahkan, Jaka Tingkir diadang oleh seekor buaya raksasa yang hidup di Sungai Bengawan Solo selama belasan tahun. Buaya itu mempersilakan Jaka Tingkir menyeberangi sungai dengan syarat bisa mengalahkan dirinya. Pertarungan sengit pun terjadi di pinggir sungai.

Kedua tangan Jaka Tingkir merangkul mulut buaya dari belakang sehingga buaya tak bisa bergerak. Akhirnya buaya itu menyerah dan bersedia mengantar Jaka Tingkir menyeberangi sungai. “Sebelum menyeberang sungai, Jaka Tingkir menancapkan batang kayu di pinggir sungai. Tak berapa lama kemudian, Jaka Tingkir tiba di seberang pinggir sungai,” papar dia.

Beberapa hari kemudian, batang kayu di pinggir sungai berubah menjadi pohon rindang. Pohon itu memiliki bunga yang cantik dan wangi. Aroma bunga tercium dalam radius hampir satu kilometer. Masyarakat yang tengah melewati lokasi itu berduyun-duyun menuju pinggir sungai.

Mereka terkesima saat melihat keindahan dan aroma bunga yang selalu memancarkan pesona. “Kabar ada pohon yang memiliki bunga yang cantik sampai di telinga Raja Keraton Surakarta, Pakubuwono IX. Dia lantas pergi menuju Sungai Bengawan Solo untuk melihat bunga itu,” papar dia.

Lambat laun, jumlah bunga di setiap dahan pohon makin bertambah.  Hal ini menarik perhatian masyarakat yang penasaran dengan keindahan bunga itu. Mereka menetap dan membangun rumah di sekitar pohon. Jumlah masyarakat yang menetap di sekitar pohon kian bertambah setiap hari.

Tokopedia