PPDB Boyolali, Sebagian Orang Tua Calon Siswa Cabut SKTM

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
08 Juli 2018 18:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sebagian orang tua calon siswa baru mencabut surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Boyolali 2018. Belum diketahui apa alasan para orang tua itu mencabut SKTM yang sebenarnya memuluskan calon siswa diterima di sekolah yang diinginkan.

Kepala Sekolah SMAN 1 Boyolali, Agung Wardoyo, mengatakan hingga penutupan PPDB SMA, Jumat (6/7/2018), setidaknya ada empat orang tua siswa yang mencabut SKTM dalam lampiran pendaftaran di sekolah anak mereka. “Ada empat orang tua yang mencabut SKTM dari sini [SMAN 1 Boyolali],” ujar Agung saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat.

Agung mengaku kurang mengetahui secara pasti alasan pencabutan tersebut. Namun dia menduga ada dua hal yang mungkin melaterbelakanginya. Dua hal tersebut adalah alasan kelangsungan belajar calon siswa pengguna SKTM yang nilainya rendah dan konsekuensi hukum atas penggunaan SKTM abal-abal.

“Sebelumnya orang tua pengguna SKTM  saya kumpulkan. Tujuannya mengantisipasi permasalahan di kemudian hari. Kami sampaikan tiga hal," jelas Agung.

Tiga hal itu, pertama, pengguna SKTM yang punya nilai tinggi dimotivasi untuk sekolah di SMAN tersebut. Kedua, pengguna SKTM dengan nilai rendah diingatkan untuk mempertimbangkan kelangsungan belajar nantinya. Bisakah siswa itu mengimbangi kecepatan belajar teman-teman lainnya nanti.

"Karena ada pengalaman siswa seperti ini tidak bisa mengikuti irama belajar teman lain sehingga malah minder. Kami tidak menakut-nakuti, tapi itu pernah terjadi," jelas dia.

Ketiga, pengguna SKTM abal-abal yang meskipun baru diketahui di kemudian hari akan dicoret atau dikeluarkan dari sekolah. "Setelah pertemuan itu, ada empat orang tua yang mencabut SKTM mereka dan kami tidak menanyai alasan mereka,” paparnya.

Sementara itu, di SMAN 2 Boyolali, ada enam orang tua calon siswa yang mencabut SKTM yang sebelumnya mereka lampirkan dalam berkas pendaftaran. Kepala Sekolah SMAN 2 Boyolali, Suyanta, mengatakan hal senada dengan Agung.

“Kami tidak tahu alasan mereka mencabut SKTM karena itu hak mereka. Apakah mereka khawatir atas konsekuensi penggunaan SKTM abal-abal atau bukan, kami tidak tahu. Yang jelas, informasi mengenai konsekuensi atas penggunaan SKTM abal-abal sudah menyebar di masyarakat,” ujarnya, Minggu.

Suyanta yang juga menjabat Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah  (MKKS) SMA Boyolali mengatakan sekolah masih melakukan verifikasi SKTM. Verifikasi dilakukan ke rumah-rumah pendaftar untuk melihat secara langsung kondisi keluarga bersangkutan.

Menurutnya, sejauh ini pengguna SKTM dalam kondisi yang sesuai. “Sampai saat ini pengguna SKTM yang masuk dalam calon siswa SMAN 2 kondisinya sesuai. Artinya, mereka benar-benar tidak mampu. Dari sekolah lain juga belum ada laporan ketidaksesuaian,” imbuhnya.

Dia menyebut pernah ada temuan pengguna SKTM yang tinggal di rumah yang terlihat mampu secara ekonomi. Namun setelah diselidiki, rumah tersebut bukan milik orang tua calon siswa bersangkutan tetapi milik kakek si calon siswa.

Orang tua calon siswa tersebut juga tinggal di sana karena tidak punya rumah sendiri. “Artinya, orang tua calon siswa ini memang tidak mampu,” ujarnya.