Sulitnya, Bikin Jalur Lambat Solo Steril Kendaraan

Pengendara kendaraan bermotor nekat masuk jalur lambat Jl. Slamet Riyadi yang menjadi area steril kendaraan saat digelar CFD, Minggu (8/7 - 2018). (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
09 Juli 2018 08:40 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Aksi para pengendara sepeda motor nekat masuk jalur lambat Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (8/7/2018) pagi, membuat M. Magandi, 28, geleng-geleng kepala. Hal itu dikarenakan aksi mereka cukup menganggu kenyamanan dirinya yang tengah beraktivitas di area car free day (CFD). 

Gandi (sapaan akrabnya) kesal karena para pengendara bukan hanya nekat lewat di area steril kendaraan tapi juga bertingkah sembarangan. Beberapa pengendara sepeda motor diketahui membunyikan klakson guna meminta para pejalan kaki di jalur lambat menyingkir.

"Kebangetan sekali. Mereka sudah nekat masuk, masih ditambah tak sabaran. Jalur lambat ini kan sudah dinyatakan steril kendaraan. Semestinya semua pihak harus mematuhi aturan ini. Saya juga berusaha demikian. Saya dan keluarga rela berjalan jauh dengan meninggalkan kendaraan di pertigaan dekat Loji Gandrung yang menjadi lokasi parkir resmi," kata Gandi saat ditemui Solopos.com di jalur lambat Jl. Slamet Riyadi dekat Kantor Pengadilan Negeri (PN) Solo, Minggu.

Gandi meminta kepada Pemerintah Solo untuk menindak tegas para pengandara yang kedapatan nekat menerbos masuk jalur lambat Jl. Slamet Riyadi saat digelar CFD. Dia mengusulkan agar Pemkot menggandeng pihak kepolisian supaya memberi surat tilang kepada masyarakat yang kedapatan melanggar aturan steril kendaraan di jalur lambat Jl. Slamet Riyadi setiap Minggu pagi. Aturan tegas diperlukan untuk memberikan efek jera kepada para pelanggar serta mencegah masyarakat lain ikut mbalelo terhadap kebijakan itu. Menurut Gandi, Pemkot lebih baik meminta Polresta Solo mengerahkan personel secara rutin di area CFD.

"Mending ditilang sekalian mereka yang nekat melanggar. Nyatanya, upaya pencegahan dengan cara pemasangan barikade di sejumlah lokasi belumlah cukup membuahkan hasil. Di lapangan masih saja ditemui pengendara yang bisa masuk jalur lambat. Kalau ada sanksi tegas, saya rasa banyak pengendara yang takut melanggar atau mengulangi kesalahan," jelas Gandi.

Berdasarkan catatan Solopos.com, Pemkot melalui Dishub Solo mulai menggintensifkan kembali penerapan kebijakan steril kendaraan di jalur lambat Jl. Slamet Riyadi saat digelar CFD pada 15 Oktober 2017 lalu. Dishub saat itu bersama personel Satlantas Polresta Solo berupaya mencegah pengendara sepeda motor masuk jalur lambat Jl. Slamet Riyadi di pertigaan Kantor PN Solo. Namun, kegiatan tersebut terpantau hanya berlangsung beberapa bulan saja. Sejak awal tahun ini Dishub tampak tak pernah menggandeng jajaran kepolisian untuk mengawasi aktivitas pengguna kendaraan bermotor di area CFD.

Dishub mengoptimalkan pemanfaataan barikade untuk dipakai mencegah pergerakan para pengendara di jalur lambat. Namun, hasilnya tak begitu maksimal. Ketika petugas Dishub lengah atau tak melakukan pengamanan, barikade sering digeser oleh pengendara. Hal itu membuat para pengendara lain bisa masuk jalur lambat dan menganggu para pejalan kaki maupun pesepeda. Kabid Lalu Lintas Dishub Solo, Ari Wibowo, menyesalkan sikap masyarakat yang nekat melanggar aturan steril kendaraan di jalur lambat Jl. Slamet Riyadi. Dia meminta masyarakat bisa bekerja sama demi menciptakan suana CFD yang nyaman dan menyenangkan.

Meski telah sering ditemukan pelanggaran, Ari menegaskan Dishub tetap akan konsisten memberlakukan kebijakan steril kendaraan di jalur lambat Jl. Slamet Riyadi. Dishub terus berupaya mencari cara terbaik untuk mencegah pengguna kendaraan masuk jalur lambat setiap kali digelar CFD. Pada Minggu ini saja, Dishub telah memasang barikade model pintu geser yang mana diharapkan tidak digeser oleh para pejalan kaki dan pesepeda. Penggunaan barikade model standar diketahui selama ini rawan digeser juga oleh para pejalan kaki dan pesepeda yang merasa terhalang dengan adanya barikade di tengah jalur lambat Jl. Slamet Riyadi.

Bedanya dengan barikade sebelumnya, barikade pintu geser akan dipasang Dishub di mulut jalan pintu masuk menuju area CFD. Dengan begitu, para pengguna kendaraan tidak bisa lagi masuk ke area CFD karena terhalangan barikade. Hanya pejalan kaki dan pesepeda yang bisa masuk area CFD dengan cara melompati akses jalan di tengah barikade. "Kali ini kami sudah pasang 25 barikade yang aksesible bagi pejalan kaki dan pesepeda. Itu merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan barikade yang mana barikade standar kamo modifikasi menjadi barikade pintu geser. Total kami akan siapkan 50 barikade seperti itu," jelas Ari.