Warung Mi Ayam Kebakkramat Ini Tawarkan Sensasi Makan di Wajan

Mi ayam wajan Putra Remaja di Jalan Solo/Sragen Kilometer 14, Kebakkramat, Karanganyar. (Solopos/Sri Sumi Handayani)
09 Juli 2018 14:15 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Warung di Kebakkramat, Karanganyar, ini relatif masih baru. Tepatnya pada H+2 Lebaran pada pertengahan Juni lalu dibuka. Namun, pembelinya selalu ramai pada jam-jam buka.

Warung bernama Putra Remaja di Jalan Raya Solo-Sragen KM 14 tak jauh dari pintu tol Solo-Kertosono di Kebakkramat itu menjual mi ayam dan bakso. Hal yang membuat warung ini istimewa dan selalu ramai pembeli adalah penyajiannya  yang unik.

Mi ayam yang sudah matang dan siap santap tidak disajikan di mangkuk atau hotplate seperti di warung lain, melainkan di wajan kecil seukuran wajan yang biasa dipakai untuk memanaskan lilin malam oleh pembatik.

Wajan itu diletakkan pada tatakan dari kayu menyerupai talenan yang dilubangi sesuai ukuran pantat wajan. Tatakan itu memudahkan orang makan mi di wajan tanpa khawatir oleng dan mi ayam tumpah.

"Kami memulai usaha ini saat Lebaran hari kedua. Mi ayam dan bakso. Sebetulnya melanjutkan usaha yang dulu pernah dijalankan. Usaha [dulu] berhenti karena saya mengajar dan anak lelaki saya kuliah. Lalu muncul ide melanjutkan usaha lama dengan konsep kekinian. Ini ide anak saya [Idief Widiyatmoko] dan istrinya [Wiwin Ambarsari]," kata perempuan berkerudung yang bertugas di meja kasir, Widomayani, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (7/7/2018).

Idief dan Wiwin cukup aktif mempromosikan  mi ayam yang mereka jual via media sosial Facebook dengan nama mi ayam wajan. Untuk mencapai warung ini cukup mudah. Dari arah Solo, warung mi ayam wajan berada di sisi barat jalan. Ada banner diletakkan di tepi jalan dengan tulisan Mie Ayam Putra Remaja.

Satu jam Solopos.com berada di warung itu, puluhan orang didominasi buruh pabrik datang silih berganti. Tidak ada kesempatan mengobrol setelah makan. Mereka harus lekas pergi karena banyak pengunjung lain yang sudah mengantre.

Orang yang mengantre harus sabar menunggu tempat duduk kosong. Setelah dapat tempat duduk, mereka kemudian menunggu pesanan datang. Harga seporsi mi ayam Rp7.000, mi ayam bakso Rp10.000, dan bakso Rp12.000. Warung ini buka pukul 11.00 WIB hingga 18.00 WIB. Tapi jangan datang pada Jumat karena tutup.

"Dahulu hanya menghabiskan 2-3 kilogram mi per hari. Kalau sekarang bisa 20 kilogram lebih per hari atau setara 400 porsi per hari. Saya enggak menyangka bisa seramai ini. Mungkin karena konsepnya kekinian. Makan mi ayam di wajan," kelakar Widomayani yang juga guru kelas VI SDN 02 Sroyo Jaten itu.

Solopos.com menjajal mi ayam bakso. Satu porsi mi ayam ditambah dua butir bakso ukuran kecil. Ukuran mi tidak terlalu besar. Kematangan mie pas alias tidak terlalu lembek. Terasa lembut di mulut dan saat dikunyah.

Kuahnya tidak terlalu kental sehingga tidak membuat enek. Bumbunya pas di lidah. Ada rasa gurih dan tidak terlalu manis. Mi ayam dapat disantap ditemani satai telur puyuh, bacem, tahu, kerupuk rambak jari, dan lain-lain.

"Bumbu itu yang meracik adik saya, Irfan Apriyadi. Dia pernah ikut orang jualan bakso dan mi ayam di Solo. Dia keluar dari kerjaannya lalu membantu usaha kami dengan membuatkan bumbu. Selain rasa, kami jual keunikan kemasan pakai wajan. Kami promosi  pakai mi ayam wajan," ujar Wiwin Ambarsari.

Salah satu pembeli, Ernawati, mengaku baru kali pertama itu menjajal mi ayam wajan. Perempuan itu bekerja di salah satu pabrik di Karanganyar. Dia memanfaatkan waktu istirahat makan siang untuk menjajal mi yang gencar dipromosikan lewat media sosial itu.

"Baru pertama mencoba ini. Lihat di Facebook dan dikasih saran teman. Penasaran sih. Ternyata lucu juga. Rasanya enak, enggak cuma penampilannya yang bagus. Pas porsinya. Balik lagi lah besok," ujar dia saat berbincang dengan Solopos.com.



Tokopedia