Kisah Pedagang Wonogiri Harus Bertahan Terhadap Serangan Kera

Wiji Astuti, 41, menunggui warung kopinya di lingkungan Bendungan, Donoharjo, Kecamatan Wonogiri, Minggu (8/7 - 2018). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
09 Juli 2018 11:40 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Wiji Astuti, 41, penjual kopi di warung lingkungan Bendungan, Donoharjo, Kecamatan Wonogiri, harus selalu waspada. Berkali-kali ia memandang ke pepohonan di sekelilingnya.

Suara kicauan burung sesekali mengagetkannya. Napasnya masih tersengal-sengal ketika ia kembali menaruh daganganya seperti rujak buah, kacang, gorengan, minuman dalam botol, dan camilan lainnya.

Sepuluh menit sebelumnya, pada Minggu (8/7/2018) pagi itu ia harus berlari sejauh 100 meter bersembunyi di masjid depan warung mungil berukuran 2 meter x 3 meter. Hampir 50 monyet ekor panjang  yang warga sebut kera atau kethek menyerbu dagangan miliknya.

Keuntungan beberapa puluh ribu rupiah hampir sirna ketika monyet-monyet hampir mengacak-acak sumber penghidupannya. Beruntung kali ini matanya lebih tajam daripada kuku-kuku monyet yang merobek atap dengan dari bahan MMT bekas reklame iklan rokok miliknya.

Ia beruntung, tangannya yang cekatan dapat menyelamatkan dagangannya dalam plastik besar yang telah ia siapkan. Masih terekam jelas dalam ingatannya ketika seekor kera menggigit paha seorang anak TK hingga terluka beberapa waktu lalu.

Hal ini membuatnya ketakutan apalagi ia teringat anak perempuannya yang masih berusia tiga tahun. Berulang kali daganganya dicuri kera. Ia memilih lari berlindung daripada tercakar atau tergigit binatang yang datang bergerombol itu.

“Setiap pagi para pengunjung yang bersepeda ke sini memberi makan monyet-monyet itu padahal kami warga asli sini takut karena berulang kali monyet-monyet  itu mencuri. Kami takut untuk membunuh monyet-monyet itu, kami takut kawanan monyet itu dilindungi undang-undang,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di lingkungan Bendungan, Donoharjo, Wonogiri.

Matanya tak henti-hentinya mengawasi pohon-pohon tinggi di belakanganya. Cahaya menembus atap warungnya yang sobek diterjang kera saat itu hingga sinarnya menerpa wajah Wiji Astuti.

Daun-daun kering yang menjadi lantai warung dengan tiang-tiang kayu utuh itu tampak berserakan ketika langkah kakinya terseret-seret kebingungan mencari tempat aman. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Suharman, mengatakan monyet ekor panjang bukan merupakan binatang yang dilindungi.

Ia menyerahkan pada kearifan lokal untuk menindak monyet ekor panjang  dengan cara apa pun bahkan membunuhnya. Ia juga mengimbau untuk tidak memberi makan monyet dengan ekor apa pun karena dapat merusak naluri alami kera.