Peternakan Babi Milik Kadus di Jatisrono Ditutup Dalam 3 Bulan

Kepala Dusun Joho, Jatisrono, dan juga pemilik peternakan babi, Sugiyarto, menandatangani surat pernyataan menutup peternakan babinya dalam jangka waktu tiga bulan. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
09 Juli 2018 20:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Peternakan babi  milik Kadus Joho, Desa/Kecamatan Jatisrono, Wonogiri, yang membuat warga resah karena bau tak sedap yang sangat mengganggu akhirnya ditutup.

Penutupan peternakan dekat permukiman warga itu tertuang dalam surat pernyataan bermeterai yang ditandatangani dalam pertemuan yang difasilitasi jajaran Forkopimcam Jatisrono di Balai Desa Jatisrono, Senin (9/7/2018) siang. Dalam pertemuan itu diputuskan pemilik peternakan babi, Sugiyarto, memiliki waktu tiga bulan untuk menutup peternakan yang bermasalah tersebut.

Salah satu warga Dusun Watugede, Luki, saat ditemui Solopos.com seusai pertemuan mengatakan berharap peternakan babi itu segera ditutup. Menurutnya warga telah puluhan tahun bersabar dengan bau menyengat dan limbah dari peternakan itu.

“Putusan tiga bulan saya rasa terlalu lama, namun tidak apa-apa kami akan tahan sejenak yang penting sudah ada kejelasan kapan peternakan akan ditutup. Apabila tiga bulan tidak ada tindakan warga akan bertindak,” ujarnya.

Selama pertemuan sempat terjadi negosiasi cukup alot. Warga menuntut peternakan babi  ditutup dalam dua pekan. Warga juga menolak pemberian sumbangan dalam bentuk apa pun karena pemilik peternakan menawarkan berbagai macam bantuan. Bau limbah babi telah merugikan baik aspek kesehatan maupun sosial, tak bisa dikompensasi dengan bantuan.

Warga lainnya, Heri, mengatakan upaya penutupan dalam tiga bulan dapat diterima. Ia juga memberi kesempatan kepada pemilik peternakan babi untuk menjual ternaknya. Ia tidak akan memberi toleransi karena merasa dirugikan dan pemilik peternakan tidak pernah minta izin lingkungan sekitar.

Pemilik peternakan yang juga Kepala Dusun Joho, Sugiyarto, mengatakan waktu yang diberikan sangat pendek. Ia sudah meminta waktu lima hingga enam bulan namun tidak diizinkan.

Ia juga telah menawarkan berbagai bantuan seperti pengisian kas desa maupun biogas serta janji untuk mengelola limbah dengan baik namun warga Dusun Watugede tetap menolak. “Waktunya sangat mepet, paling tidak babi-babi saya dapat dijual sekitar bulan November atau Desember, namun tetap saya terima. Saya akan coba usaha yang lain,” ujar pemilik 200-an ekor babi itu.

Sementara itu, pemilik peternakan lainnya yang juga Kepala Dusun Watugede, Warijo, yang diwakili anaknya, Yani, mengaku siap menutup kapan pun seluruh peternakan miliknya. Ia juga meminta maaf kepada warga.

Camat Jatisrono, Endrijo Rahardjo, mengatakan keputusan mengenai penutupan dan diberikan jangka waktu tiga bulan sudah sangat tepat dan berimbang. “Kami posisikan sebagai warga  dan pemilik. Saya ketika ke lokasi juga merasakan bau sekali namun kami juga melihat para pemilik sudah kehilangan banyak modal. Oleh karena itu kami berikan waktu selama tiga bulan agar pemilik dapat segera menjual seluruh babinya sebelum dikosongkan,” ujarnya.

Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Wonogiri, Heru Sutopo, mengatakan masalah bau peternakan limbah babi memang masih dalam ranah pemerintah kecamatan. Apabila tidak bisa diselesaikan baru menuju ke ranah pemerintah kabupaten.

Ia mengatakan telah berkoordinasi dengan Dinas Perizinan dan Penanaman Modal terkait peternakan babi tersebut dan memastikan memang pemilik tidak mengantongi izin sehingga ditutup.



Tokopedia