Terus Naik, Harga Telur di Pasar Boyolali Tembus Rp27.500/Kg

Seorang pedagang di Pasar Pengging, Banyudono menimbang telur saat melayani pembelinya, Senin (9/7/2018). Harga telur ayam ras terus merangkak naik hingga mencapai Rp27.500 - kg di tingkat pedagang pasar. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
10 Juli 2018 09:10 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Pascalebaran, harga telur ayam ras terus merangkak naik. Di tingkat padagang pasar, harga telur mencapai Rp27.500/kg.

Seorang pedagang di Pasar Pengging, Banyudono, Boyolali, Marni, 68 mengatakan, harga telur pada musim Lebaran sudah naik dibandingkan pada bulan puasa, yakni dari Rp 19.000/kg menjadi Rp22.000/kg.

Kenaikan harga tersebut kemudian terus berlangsung hingga saat ini mencapai Rp27.500/kg. “Setelah Lebaran naik terus. Sekarang harganya sudah Rp27.500/kg di pasar. Kalau di warung mestinya sudah lebih tinggi lagi,” ujarnya saat ditemui Senin (9/7/2018).

Marni mengaku kenaikan harga  ini membuatnya khawatir sehingga dia memilih berhenti menjual telur. “Takutnya kalau saya kulakan sekian, besoknya harganya naik lagi sehingga saya akan rugi,” kata Marni yang biasa memasok sekitar 2 kotak telur per hari (30 Kg) ini.

Sementara itu, pedagang lain di lantai II pasar tersebut mengatakan hal yang sama. Menurut pedagang yang enggan disebut namanya ini, dengan kenaikan harga tersebut kuantitas pembelian dari pelanggan menjadi sedikit berkurang. “Karena mahal ya jadinya pada beli sedikit-sedikit. Tapi sesekali ada juga yang beli banyak,” ujarnya.

Dia memperkirakan, kenaikan harga ini disebabkan kebutuhan masyarakat yang meningkat seiring datangnya musim pesta pernikahan. “Mungkin karena banyak yang punya gawe [pesta pernikahan] makanya harga telur jadi terus naik,” imbuhnya.

Sementara itu, pedagang di Pasar Mojosongo, Boyolali, Titin, 45 mengatakan hal senada dengan pedagang Pasar Pengging. Saat ini harga telur terus meroket hingga dia harus menjual telur Rp27.500/kg.

Menurutnya, harga telur saat ini merupakan harga paling tinggi  selama dia berjualan di pasar tersebut. “[Harga] Ini paling tinggi selama saya berdagang,” kata Titin yang mengaku sudah bertahun-tahun menjadi pedagang di pasar yang berada di sisi utara Jalan Solo-Semarang ini.

Namun meski harga telur sangat tinggi, permintaan dari konsumennya tetap, malah justru cenderung meningkat. “Saya biasanya ambil 2 kotak setiap hari dan habis sore hari. Tapi sekarang saat harganya naik begini, siang hari sudah habis. Mungkin banyak yang punya gawe juga,” ujarnya.

Titin menambahkan, kenaikan harga telur ini merupakan hal yang rutin terjadi pada setiap musim Lebaran. Dan ketika saat ini sudah lewat jauh dari Lebaran, dia berharap harga segera kembali normal di bawah Rp20.000/kg. “Kasihan warga kalau harga enggak turun-turun. Kan mereka juga harus belanja keperluan lain, bukan hanya untuk mengikuti harga telur,” harapnya.

 

Tokopedia