Mendaftar di SMAN 2 Solo Pakai KIP, Anak PNS Jaten Dicoret

Ilustrasi pendaftaran peserta didik baru (PPDB) offline. (Solopos/M. Ferri Setiawan)
11 Juli 2018 18:15 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- SMAN 2 Solo mencoret dua calon siswa yang mendaftar saat Penerimaan Peserta Didik Baru  (PPDB) online. Salah satu calon siswa yang dicoret diketahui merupakan anak seorang aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) warga Jaten, Karanganyar, dan mendaftar menggunakan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Waka Kesiswaan SMAN 2 Solo, Dwi Arti, menjelaskan jumlah calon siswa dari keluarga miskin yang mendaftar ke SMAN 2 Solo ada 34 orang. Sekolah melakukan verifikasi di lapangan dengan mendatangi rumah mereka dan hasilnya dua siswa dicoret. Siswa yang dicoret itu mendaftar di jurusan IPS.

“Satu siswa yang dicoret mendaftar menggunakan KIP [Kartu Indonesia Pintar]. Setelah dicek lapangan ternyata siswa ini orang tuanya ASN warga Jaten. Sementara satu siswa mendaftar mengunakan SKTM namun setelah dicek tidak masuk database gakin SK [Surat Keputusan] Wali Kota Solo. Kami langsung mencoret kedua siswa ini dan melaporkannya ke Disdikbud Provinsi Jateng,” ujar Dwi saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu (11/7/2018).

Ia menjelaskan kuota SMAN 2 Solo mencapai 360 siswa dengan perincian jurusan MIPA 180 siswa dan IPS 180 siswa. Selain di SMAN 2 Solo, pencoretan calon siswa terjadi di SMAN 8 Solo.

“Kami mencatat ada empat siswa dari luar kota Solo yang mendaftar menggunakan SKTM [surat keterangan tidak mampu]. Panitia PPDB online langsung melakukan verifikasi lapangan dengan mendatangi rumah siswa,” ujar Kepala Sekolah SMAN 8 Solo, Endang Purwaningsih Agustina, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu.

Endang mengungkapkan dua dari empat siswa gakin yang menggunakan SKTM tersebut dari Jaten dan Kebakkramat. Hasil verifikasi di lapangan tiga siswa lolos verifikasi. Sementara satu siswa asal Kebekkramat, Karanganyar, dicoret karena tergolong mampu secara ekonomi.

“Siswa itu rumahnya bagus dan ada garasi mobilnya. Bahkan SKTM-nya diketahui baru diterbitkan 6 Juli. Kami langsung mencoret siswa yang mendaftar jurusan IPS itu dari PPDB online. Hasil temuan ini langsung dilaporkan ke Disdikbud [Dinas Pendidikan dan Kebudayaan] Jateng,” kata dia.

Ia menjelaskan total calon siswa gakin yang mendaftar di SMAN 8 Solo ada 23 orang dengan perincian IPS 19 siswa dan IPA empat siswa. “Kursi satu calon siswa yang dicoret akibat memalsukan SKTM ini tetap dibiarkan kosong sesuai instruksi Disdikbud Provinsi Jateng,” kata dia.

Kepala Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah III Disdikbud Jateng, Jasman Indratno, mengatakan sampai Rabu pukul 15.00 WIB belum ada keputusan terkait pengumuman hasil PPDB online SMA/SMK di Jateng. Hal itu karena hasil verifikasi SKTM di tingkat Provinsi Jateng belum selesai.

“Sesuai juknis [petunjuk teknis] pengumuman PPDB  online diumumkan pukul 23.55 WIB malam ini. Namun karena ada persoalan teknis soal verifikasi SKTM, pengumuman PPBD online menunggu keputusan Gubernur Ganjar Pranowo,” ujar Jasman saat dihubungi Solopos.com, Rabu.

Ia memastikan calon siswa yang kedapatan memalsukan SKTM langsung dicoret dari PPDB online. Calon siswa tersebut tidak bisa mendaftar lagi di sekolah negeri. Hal itu bagian dari sanksi tegas bagi siswa yang telah berbuat curang.

“Peluang siswa yang memalsukan SKTM masuk ke sekolah negeri sudah tertutup rapat. Peluangnya satu-satunya hanya bisa sekolah di swasta. Kami bersikap tegas terhadap siswa yang telah melakukan pelanggaran,” kata dia.

Ditanya mengenai peluang membuka pendaftaran offline bagi sekolah kurang siswa, Jasman memastikan sampai sekarang tidak ada wacana membuka pendaftaran offline. Hal tersebut mengacu pada juklak dan juknis PPDB online 2018/2019.