Produksi Menurun, Penyebab Harga Telur Merangkak Naik

Seorang pekerja membersihkan kandang di peternakan ayam ras di Desa Karangnongko, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, Selasa (10/7 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
11 Juli 2018 09:10 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Salah satu penyebab kenaikan harga telur ayam ras belakangan ini adalah produksi yang kian menurun, sementara permintaan tidak berkurang. Penurunan produksi ini disebabkan jumlah peternak yang berkurang dan serangan penyakit pada ternak.

Salah satu peternak ayam petelur Boyolali Tukinu mengatakan, berkurangnya jumlah peternak ini merupakan imbas dari anjloknya harga telur  beberapa waktu silam. Peternak bermodal kecil gulung tikar dan tak mampu melanjutkan usaha mereka. “Saat ini jumlah pengusaha ternak ayam di Boyolali ada 45 dengan produksi total rata-rata 25 ton per hari,” ujarnya saat ditemui wartawan di Boyolali, Selasa (10/7/2018).

Produksi telur tersebut selain didistribusi ke Boyolali, juga untuk memenuhi permintaan di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bandung, dan Surabaya.

Dengan permintaan yang tinggi sementara produksinya turun, maka hukum pasar berlaku. “Kalau masalah harga di pasaran itu tergatung mekanisme pasar. Tapi yang jelas dari peternak saat ini dijual Rp24.000/kg,” imbuhnya.

Di sisi lain, menurut tokoh paguyuban peternak ayam Boyolali ini, penurunan produksi telur juga dipengaruhi adanya penyakit pada ayam. “Ada peternak yang mengeluhkan penyakit pada ayam mereka yang menyebabkan produktivitas telur menurun. Tapi penyakitnya apa saya kurang tahu karena ini harus ada pemeriksaan dari pihak berwenang.”

Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) pada Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali, Afiany Rifdania mengakui saat ini di beberapa daerah, termasuk Boyolali masih ada peredaran penyakit ayam yang menyebabkan produktivitas telur menurun.

Menurutnya penyakit ini adalah sub tipe avian influenza (AI) H9N2 yang low patogenic (tidak menular ke manusia). Namun penyakit ini menyebabkan penurunan produksi telur. “Sub tipe avian influenza H9N2 yang low patogenic [tidak menular ke manusia]. Jadi ini strain baru yang ditemukan pada virus AI selain H5N1. Penyakit ini menyebabkan penurunan produksi telur hingga 50-60 persen dan masih banyak beredar di peternak layer kita,” ujarnya saat ditemui wartawan di Gedung DPRD Boyolali.

Meski penyakit ini masih beredar, pihaknya mengaku kesulitan masuk ke peternakan untuk melakukan penanggulangan karena ada resistensi dari sebagian pemiliknya. Umumnya, peternak mandiri ini merasa mampu mengatasi masalah mereka.

Padahal kepada peternak pihaknya bisa melakukan penyuluhan mengenai penangguangan berbagai penyakit. Bahkan untuk untuk peternak berskala kecil dengan kapasitas di bawah 5.000 ekor, pihak Dinas bisa membantu penyediaan disinfektan gratis.