Pakai SKTM Fiktif, 3 Calon Siswa SMAN Boyolali Didiskualifikasi

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
11 Juli 2018 10:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Tiga calon siswa baru  pengguna surat keterangan tidak mampu (SKTM) di Boyolali didiskualifikasi karena ketahuan dari keluarga mampu. Ketiganya masing-masing satu calon siswa di SMAN 2 Boyolali, SMAN 3 Boyolali, dan SMAN 1 Simo.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Boyolali, Suyanta, mengatakan ketiganya ketahuan menggunakan SKTM "palsu" berdasarkan hasil verifikasi tim di masing-masing sekolah dengan mendatangi langsung ke rumah calon siswa pengguna SKTM.

“Setelah sekolah memverifikasi ke rumah-rumah calon siswa pengguna SKTM, ada tiga yang terpaksa didiskualifikasi karena tidak layak dikategorikan keluarga miskin. Para calon siswa ini mendaftar di SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 1 Simo. Masing-masing satu siswa,” ujarnya kepada Solopos.com, Selasa (10/7/2018).

Suyanta yang juga Kepala SMAN 2 Boyolali ini mengatakan berdasarkan penelusuran tim verifikasi sekolahnya kepada keluarga calon siswa  yang didiskualifikasi tersebut, kondisi rumah, penghasilan, dan beban hidup masuk kategori keluarga mampu. Penggunaan SKTM oleh orang tua untuk mendaftar sekolah dilakukan lantaran kekhawatiran tidak diterima di sekolah yang jaraknya tak jauh dari objek wisata air Tlatar itu.

“Sebenarnya dia mampu, tapi mungkin saat itu banyak yang pakai SKTM sehingga dia ikutan. Takut anaknya tidak diterima. Nah, sesuai ketentuan, ketika kemudian SKTM tidak sesuai dengan kondisinya, maka siswa didiskualifikasi dari daftar calon siswa baru,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 3, Khaerul Anwar, mengakui ada salah satu calon siswa yang didiskualifikasi karena penggunaan SKTM tidak sesuai. Menurutnya, keluarga siswa tersebut berdomisili di Kecamatan Boyoali Kota.

“Ada satu calon siswa yang menggunakan SKTM untuk mendaftar dan setelah diverifikasi oleh tim ke tempat tinggalnya, kondisinya memang mampu sehingga terpaksa didiskualifikasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan berdasarkan pengakuan orang tua calon siswa tersebut, mereka menggunakan SKTM atas kemauan anak yang ngotot ingin bersekolah di SMAN 3 Boyolali. “Karena si anak menangis sangat ingin bersekolah di sini [SMAN 3] maka dia ngotot pakai SKTM. Tapi dari segi nilai tergolong rendah,” ujarnya.

Setelah didiskualifikasi, lanjut Khaerul, calon siswa baru  bersangkutan masih berkesempatan melanjutkan ke sekolah swasta. Sementara itu, dengan didiskualifikasinya calon siswa tersebut, kuota siswa di masing-masing sekolah tersebut menyisakan satu kursi dan sudah tidak bisa diisi lagi oleh calon siswa lain karena sistem sudah terkunci saat penutupan pendaftaran, Jumat (6/7/2018).



Tokopedia