9 Desa Klaten Mulai Kesulitan Air Bersih

ilustrasi kekeringan. (Solopos/Dok)
11 Juli 2018 09:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Sebanyak sembilan desa tersebar di empat kecamatan mulai mengalami kesulitan air bersih. Jumlah desa yang mengajukan permintaan bantuan air bersih di Klaten diperkirakan terus bertambah.

Sembilan desa itu yakni Desa Sidorejo, Kendalsari, Keputran, Talun, dan Tlogowatu di Kecamatan Kemalang. Desa Kecemen dan Ngemplakseneng di Kecamatan Manisrenggo. Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, serta Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom. BPBD Klaten sudah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 93 tangki. Anggaran untuk bantuan air bersih dari APBD senilai Rp200 juta. Dana siap pakai senilai Rp500 juta bisa dicairkan untuk bantuan air bersih ketika Klaten  dinyatakan darurat kekeringan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Purwanto, mengatakan desa yang mengalami kesulitan air bersih tak hanya terjadi di wilayah lereng Merapi. Sejumlah desa di sepanjang aliran Kali Dengkeng juga mengalami kesulitan air bersih lantaran kondisi air tak layak konsumsi. “Di Tumpukan itu kondisi air berasa asin dan berkapur,” kata Purwanto, Selasa (10/7/2018).

Pengajuan permintaan bantuan air bersih diperkirakan terus bertambah. Hal itu lantaran puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli-Agustus. “Untuk kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang ketimbang tahun lalu,” jelasnya.

BPBD Klaten mencatat ada 22 desa di tujuh kecamatan yang tahun lalu digelontor bantuan air bersih. Desa-desa itu kebanyakan berada di wilayah lereng Gunung Merapi.

Purwanto mengatakan jumlah desa yang rawan kekeringan kian menyusut. Program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) serta perluasan jaringan air bersih PDAM yang sudah bergulir di sejumlah desa disebut-sebut mengurangi daerah rawan kekeringan. “Sebenarnya program Pamsimas sudah mengurangi. Namun, jaringannya belum merata sehingga belum semua warga terbebas dari kekeringan saat kemarau tiba,” urai dia.

Lebih lanjut, Purwanto menjelaskan distribusi air bersih yang disalurkan BPBD ditujukan ke fasilitasi umum dan fasilitas sosial seperti di bak penampungan masjid. Warga sudah terbiasa mengambil air bersih dari fasilitas itu. Purwanto mengimbau warga agar lebih bijak dalam penggunaan air bersih terutama ketika terjadi kemarau seperti saat ini.

Ketua RW 003, Dukuh Purworejo, Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Karyana, mengatakan sudah membeli air bersih sejak Januari lalu. Harga satu tangki air bersih hingga ke Desa Dompol sekitar Rp100.000. Sementara, harga satu tangki air bersih hingga ke wilayah Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang senilai Rp250.000.

Satu tangki air bersih biasa ia gunakan selama sepekan. Selain untuk memenuhi kebutuhan air konsumsi keluarga, air yang dibeli digunakan untuk kebutuhan ternak. “Memang belum ada pengajuan air bersih dari desa. Namun, BPBD dan PMI sudah memberikan bantuan air bersih sekitar 1,5 bulan lalu. Hanya, belum bisa menyasar ke seluruh warga,” katanya.

Tokopedia