Rumah di Klaten Ini Jadi Saksi Perjuangan dr. Sardjito

Rumah warga yang jadi RS darurat saat penjajahan Belanda di Dukuh Sendang Nglebak RT 001/RW 009, Desa Krakitan, Bayat, Klaten, Selasa (10/7 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
11 Juli 2018 14:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, SOLO -- Isi rumah petak berukuran 9 meter x 12 meter itu berantakan. Aneka gerabah, mebeler, dan sepeda tua, teronggok begitu saja. Lantai tegel berbalut debu tebal mengisyaratkan rumah itu lama tak dijamah pemiliknya.

Genting-genting di atap rumah diturunkan karena akan diganti. Rumah tua  bercat putih kusam di Dukuh Sendang Nglebak RT 001/RW 009, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, itu milik mendiang Notodarsono. Ia merupakan kawan dr. Sardjito, tokoh bangsa yang namanya diabadikan jadi nama rumah sakit di Jogja, RSUP dr. Sardjito.

Di rumah itulah dr. Sardjito pernah membantu perjuangan melawan penjajah dengan mengobati para pejuang dan warga yang terluka pada masa perang kemerdekaan. Jejak-jejak dr. Sardjito di rumah itu terekam jelas dalam ingatan Warno Pawiro alias Sumirin, 90.

Saat dr. Sardjito datang ke desa itu, ia masih kecil. Di rumah Notodarsono itulah dr. Sardjito sibuk merawat luka-luka orang dari berbagai daerah. Rumah itu menjadi semacam rumah sakit darurat.

Saat itu, rumah berusia lebih dari 100 tahun adalah rumah terbaik di kampung tersebut. Rumah itu memiliki tembok bata tebal dan beratap genting. Tak jauh dari rumah itu ada posko PMI. Lokasinya persis di dekat masjid.

Saat itu, seusai kekalahan Jepang, Belanda kembali datang berusaha menancapkan kembali cakar koloninya di Indonesia. “Hampir setiap pagi terdengar bunyi cannon terbang di atas rumah. Nyiuuu... kalau tinggi jatuhnya di rawa [Rowo Jombor]. Kalau rendah jatuhnya di Turis [Bukit Turis]. Jadi ambyar ke mana-mana,” tutur Sumirin saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Notodarsono, Selasa (10/7/2018).

Meriam-meriam itu dikirimkan dari Stasiun Kereta Api (KA) Klaten. Warga di sekitar stasiun banyak yang mengungsi ke selatan, ke arah perbukitan, salah satunya kawasan Desa Krakitan. Di sana, para gerilyawan dan warga juga bersembunyi di goa tak jauh dari rumah sakit darurat.

“Pak Sardjito sama istri tinggalnya di Mbah Asma ‘Ali di Dukuh Nglebak. Setiap pagi ke sini untuk merawat orang-orang. Obat-obatan disimpan di rumah lain. Saya sering ambil logistik untuk dibawa sini,” kenang dia.

Saat merawat pasien, dr. Sardjito dibantu beberapa perawat. Mereka datang dan pergi mengikuti perkembangan situasi peperangan. Ada dua perawat yang masih diingatnya, Giyanto dan Trisono.

Sumirin sering mengobrol dengan keduanya terutama saat merebus air panas. “Saya sering disuruh merebus air panas untuk mengobati pasien yang datang. Kadang bantu ibu [Ny. Sardjito] mengangkati piring untuk makan. ‘Nduk, bawa piringnya enggak usah banyak-banyak nanti jatuh,’” kata Sumirin menirukan Ny. Sardjito.

Penjaga rumah yang juga keponakan Notodarsono, Wagiyo, 60, membenarkan rumah itu pernah jadi rumah sakit darurat di Desa Krakitan. Selain mengobati pejuang yang terluka, dr. Sardjito juga mengobati warga yang datang ke rumah itu karena sakit. Di awal-awal kemerdekaan, jumlah dokter dan tim medis masih langka.

Rumah itu seluruhnya masih autentik serupa dengan rumah saat dipakai dr. Sardjito. Pemilik rumah hanya mengganti genting yang lama dengan genting baru sebab genting lama sering bocor dan dikhawatirkan merusak bangunan.

“Ada 5.000 genting saya pesankan yang serupa dengan aslinya. Genting jenis ini sudah jarang yang bikin,” kata Wagiyo.



Tokopedia