Desain Flyover Purwosari Solo Berubah Lagi

Kendaraan melintas di perlintasan sebidang Purwosari, Laweyan, Solo, Rabu (4/7 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
12 Juli 2018 17:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Desain flyover (jalan layang) Purwosari yang akan dibangun akhir tahun ini berubah lagi. Berdasarkan kesepakatan terakhir dalam rapat koordinasi di ruang rapat Wali Kota Solo, desain flyover Purwosari kembali ke bentuk 'I' atau lurus seperti flyover Palur, Karanganyar.

Desain huruf 'I' ini merupakan desain awal flyover Purwosari. Namun, pada awal Juli lalu, Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo menginformasikan desain flyover Purwosari berbentuk huruf 'Y' seperti flyover Manahan. Desain 'Y' ini untuk mengakomodasi arus kendaraan berat dari Jl. Agus Salim.

Bentuk desain itu berubah lagi ke bentuk 'I' sesuai keputusan hasil rapat koordinasi (rakor) yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dan Satuan Kerja (Satker) Perencanaan dan pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Provinsi Jawa Tengah di ruang rapat Wali Kota Solo, Rabu (11/7/2018). Rakor yang dipimpin Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo tersebut berlangsung tertutup.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo Arif Nurhadi mengatakan idealnya flyover Purwosari didesain berbentuk ‘Y’. Namun lantaran berbagai pertimbangan, Pemkot akhirnya menyepakati desain flyover berbentuk ‘I’.

“Pertimbangan ‘I’ karena ketersediaan anggaran serta persoalan nonteknisnya bakal lebih kecil. Sedangkan jika kita tetap bangun ‘y’, biayanya terlalu tinggi dan khawatirnya malah tidak ada anggaran dan tidak terbangun sehingga kemacetan semakin parah,” kata kepada wartawan seusai rakor.

Beberapa aspek nonteknis apabila mengambil bentuk 'Y' di antaranya banyak lahan di Jl. Agus Salim yang bakal terdampak pembangunan flyover Purwosari. Dengan demikian perlu adanya pembebasan lahan di Jl. Agus Salim. Pembebasan lahan diperlukan untuk perlebaran jalan menyesuaikan flyover.

“Kanan kiri Jalan Agus Salim harus dilebarkan, jadi butuh biaya besar,” katanya.

Dengan desain 'I', akses kendaraan berat dari Jl. Agus Salim bakal ditutup alias tidak bisa lewat flyover. Arif mengatakan Dinas Perhubungan akan melakukan perubahan manajemen rekayasa lalu lintas terkait hal itu. “Yang penting sekarang desain disepakati dulu baru nanti akan menyusun rekayasa lalu lintasnya,” katanya.

Pembangunan flyover Purwosari mendesak direalisasikan guna mengatasi persoalan kemacetan akibat di perlintasan sebidang saat kereta api melintas. Manajemen rekayasa lalu lintas akan disiapkan selama proyek pembangunan flyover Purwosari dikerjakan.

Pengerjaan proyek tersebut diprediksikan juga bakal berdampak pada kepadatan arus lalu lintas  di Kota Bengawan. Kajian rekayasa lalu lintas ditargetkan rampung dalam waktu dekat.

Kepala Satker P2JN Provinsi Jawa Tengah Aris Rudianto mengatakan pembangunan flyover Purwosari akan dikerjakan setelah jalan layang Manahan rampung, Oktober nanti. Flyover Purwosari diharapkan bisa mulai dikerjakan November tahun ini.

Secara teknis, flyover Purwosari akan membentang di Jl. Slamet Riyadi mulai sisi timur simpang tiga Kerten hingga simpang empat Purwosari. “Total panjang flyover 450 meter," jelasnya.

Dia mengatakan pengerjaan flyover Purwosari diperkirakan memakan waktu delapan bulan dengan anggaran seluruhnya dari APBN dengan sistem multiyear (tahun jamak). Saat ini Satker tengah mengajukan izin pelaksanaan pengerjaan secara multiyears ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Kalau izin sudah turun, tinggal lelang pekerjaan,” katanya.