Tenaga Kerja Langka, Usaha Konveksi Klaten Meredup

Suasana tempat produksi di Hikaru Konveksi, Dukuh Krangkungan, Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Rabu (11/7 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
12 Juli 2018 08:30 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN — Relokasi pabrik-pabrik tekstil dan garmen dari Jabodetabek ke Jawa Tengah sekitar lima tahun lalu berdampak terhadap usaha konveksi di Klaten. Pengusaha konveksi mengeluhkan kesulitan tenaga kerja karena banyak yang terserap ke pabrik.

Pemilik Bhakti Tailor, Aris Suwandi Tejo Purnomo, ia mengatakan dalam lima tahun terakhir Klaten mengalami defisit tenaga kerja. Banyak lulusan SMA/SMK cenderung memilih bekerja di pabrik ketimbang bekerja di usaha konveksi yang terbilang Usaha Kecil Menengah (UKM). Akibatnya, tenaga kerja yang ada di UKM rata-rata berusia tua. “Lulusan semuanya digiring ke pabrik. Padahal, UKM juga ingin berkembang,” kata Aris, saat ditemui Solopos.com di rumahnya Jl. Veteran 101, Klaten Utara, pekan lalu.

Aris bercerita pernah berbincang dengan anak-anak magang binaannya di workshop-nya, ke mana mereka setelah lulus. Semuanya menjawab ke pabrik. Mereka tidak tertarik untuk bekerja di usaha konveksi UKM karena pabrik dirasa lebih menjanjikan. “Selain bersaing soal SDM, kami harus bersaing soal teknologi. Ada peralatan yang seharusnya sudah ganti tapi malah belum. Sedangkan, peralatan di pabrik selalu mengikuti perkembangan zaman. UKM kalah di banyak aspek,” imbuh dia.

Akibatnya, lanjut Aris banyak pelaku UKM memlih tutup atau beralih profesi ke bisnis lain, kuliner misalnya. Ada juga sebagian pengusaha konsisten bertahan di bisnis konveksi kendati tak lagi mendapatkan order sebanyak dahulu. “Orang-orang Wedi itu biasanya punya hubungan ke Pasar Klewer di Solo. Pasar Klewer berfungsi sebagai etalase. Produksi dan gudang biasanya ada di Wedi,” beber dia.

Ia berharap ada dukungan pemerintah yang berpihak pada pengembangan UKM bidang konveksi di Klaten. Dahulu, banyak pelaku UKM diikutikan pelatihan ke berbagai kota seperti Bali, Jakarta, Bandung, dan lainnya agar memiliki keterampilan untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas. “Selama ini enggak ada perhatian dari pemerintah. Akses tenaga kerja sulit. UKM dipaksa bersaing dengan pabrik-pabrik besar,” tutur Aris.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan sejak krisis moneter menghantam Indonesia menjelang reformasi berimbas pada sektor usaha di Klaten mulai dari konveksi hingga mebel. Pengusaha yang awalnya produk bisa diekspor perlahan menyusut.

Ia menyatakan pemkab Klaten bakal memberikan dukungan khusus untuk pengembangan usaha konveksi di Klaten salah satunya dengan penguatan kualitas produk agar berani bersaing di pasar. “Kami fokuskan ke peningkatan kualitas produk. Kalau kualitasnya bagus, menarik pasar, tentu akan banyak permintaan. Imbasnya adalah penyerapa tenaga kerja yang lebih banyak,” ujar dia, Rabu (11/7/2018).