Tak Rela Ikan Mati, Nelayan WKO Sragen Pindahkan Keramba

Ribuan ikan milik nelayan karamba WKO, Kemusu, Boyolali, mati mendadak sejak Minggu (1/7 - 2018) malam. (Istimewa/Budi Siswanto)
13 Juli 2018 02:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Para nelayan atau petani ikan di wilayah Ngargosari dan Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, menyiasati perubahan suhu udara di musim kemarau dengan memindahkan keramba mereka menggunakan perahu. Hal itu dilakukan karena petani tak rela ikan-ikan mereka mati massal gara-gara perubahan suhu yang drastis.

Seorang petani ikan asal Dukuh Boyolayar, RT 026, Desa Ngargosari, Sumberlawang, Sragen, Anton Setiawan, 27, saat diwawancarai Solopos.com, pekan lalu, mengatakan bersama ratusan petani ikan lainnya di Desa Ngargotirto dan Ngargosari selalu standby di keramba masing-masing untuk melihat perkembangan air di perairan Waduk Kedung Ombo  (WKO) tempat keramba mereka berada.

Tokopedia

Anton dan petani ikan lainnya tidak mau kasus kematian ikan dalam jumlah besar yang terjadi di perairan WKO wilayah Kabupaten Boyolali terjadi di keramba milik petani di wilayah Sragen.

“Kematian ikan yang terjadi di Boyolali itu karena dampak kemarau, yakni naiknya kandungan air di dasar WKO  ke permukaan. Akibatnya warna air menjadi kehijau-hijauan dan baunya tajam. Ikan keramba kalau terkena air itu pasti mati. Hal itu biasa terjadi mulai Juli. Kami sudah hafal sehingga kami sudah antisipasi sejak dini,” ujar Anton.

Dia menyampaikan para petani mulai mengantisipasi dengan merelokasi keramba itu sejak beberapa hari sebelumnya. Dia bersyukur para petani ikan di Sragen selamat dari kerugian akibat kematian ikan dalam jumlah besar.

Di WKO  wilayah Boyolayar ada 26 petak keramba. Masing-masing petak terdapat rata-rata 3.000 ekor ikan nila dan tombro.

Anton menjelaskan kondisi keramba selama kemarau harus dijaga ekstra ketat untuk mewaspadai naiknya air dasar waduk. Dia mengatakan ikan di keramba masih berumur dua bulan.

Biasanya ikan yang berumur empat bulan sudah siap panen. Dengan kondisi musim tersebut, Anton dan petani lainnya mulai menaikkan harga ikan. Biasanya Anton menjual ikan segar dengan harga Rp28.000/kg. Sekarang harga ikan segar naik menjadi Rp32.000/kg.

“Kami menaikkan harga ya baru-baru ini. Sekarang harganya Rp32.000/kg,” ujarnya.

Anton tak biasa mengirim barang kepada bakul besar saat panen. Ia lebih banyak memasok permintaan ikan segar dari warung-waring makan yang menjual menu ikan. Dalam sehari Anton bisa menjual 100 kg ikan segar. Dengan harga Rp32.000/kg, Anton bisa mendapatkan omzet Rp3,2 juta per hari.