Banjir Bandang Jepang Terparah Selama 36 Tahun Terakhir

PM Jepang, Shinzo Abe, mengunjungi pengungsi banjir bandang (Theguardian.com)
13 Juli 2018 15:45 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, KURASHIKI – Hujan lebat yang memicu banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Jepang barat, tepatnya Kota Kurashiki, pekan lalui menewaskan sekitar 200 orang. Pencarian terhadap puluhan korban yang dinyatakan hilang masih terus dilakukan.

Dilansir Reuters, Kamis (12/7/2018), hujan deras dan banjir bandang itu disebut sebagai bencana terburuk di Jepang selama 36 tahun terakhir. Pemerintah Jepang mengerahkan lebih dari 75.000 personel gabungan untuk melakukan pencarian terhadap korban hilang. Mengingat kondisi banjir yang masih parah, pemerintah Jepang memperkirakan jumlah korban tewas bakal bertambah.

"Bencana ini belum pernah terjadi sebelumnya dan yang paling parah selama 36 tahun terakhir," kata juru bicara pemerintah Jepang, Yoshihide Suga, dalam konferensi pers di Tokyo.

Saat itu, sekitar 10.000 warga Jepang mengungsi di tempat yang aman karena rumah mereka terendam air. Salah seorang pengungsi bernama Ken Kirioka sangat sedih karena ayah dan beberapa anggota keluarganya hilang.

"Ayahku belum ditemukan. Dia sudah tua, usianya 76 tahun dan saat ini menderita penyakit jantung. Saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk jika mendengar kabar kematian ayah," kata Ken Kirioka seperti dilansir The Guardian, Jumat (13/7/2018).

Ken Kirioka menambahkan, kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang terendam banjir sangat parah. Jadi, dia pasrah jika memang ayahnya dan beberapa orang lain yang hilang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, telah berkunjung ke beberapa daerah yang terdampak bencana alam tersebut. Dia berjanji segera membangun kembali bangunan yang hancur. Menurut data Tim SAR, lebih dari 700 rumah warga rusak akibat terendam banjir dan longsor.

"Kami akan memotong semua birokrasi untuk mengamankan barang-barang yang dibutuhkan pengungsi untuk bertahan hidup. Kami akan meningkatkan fasilitas di pengungsian agar korban merasa nyaman. Mereka sepertinya membutuhkan lebih banyak pendingin udara jika cuaca panas terus berlanjut. Kami juga akan membangun rumah mereka setelah semuanya terkendali," kata Shinzo Abe.

Guna mempercepat pencarian korban yang hilang, tim penyelamat dibantu anjing pelacak bekerja tanpa kenal lelah di bawah terik matahari menyisir tumpukan kayu dan lumpur tebal. Namun, suhu tinggi yang terjadi di daerah Okoyama dan Hiroshima menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat.

Serangan suhu panas ini juga dikhawatirkan membahayakan kondisi pengungsi. Sejumlah pengungsi tampak kepanasan dan tidak bisa tidur dengan nyenyak meski ada banyak kipas angin yang dinyalakan di penampungan. Pemerintah meminta tim penyelamat mengatasi serangan suhu panas yang dikhawatirkan merenggut lebih banyak nyawa pengungsi tersebut.