Kuliner Solo: Ekspansi Generasi Ketiga RM Kusuma Sari

Beragam sajian di RM Kusuma Sari (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
14 Juli 2018 09:00 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Tak ada yang meragukan kenikmatan menu-menu klasik fusions Jawa Belanda buatan rumah makan (RM) Kusuma Sari yang terletak tepat di perempatan Nonongan, di Jalan Brigjend Slamet Riyadi no 111, Kemlayan, Serengan, Solo. Maklum, rumah makan yang semula berawal dari usaha katering yang berdiri sejak 1970 ini masih eksis di tengah perkembangan zaman dengan munculnya berbagai variasi makanan kekinian.

Sebut saja menu seperti kroket, selat segar, steak galantin, sup mekarsari, sup galantin, stoop macaroni, hingga es krim, yang jadi andalan rumah makan yang didirikan oleh Sugiyarti Waluyo Kusumo atau lebih dikenal dengan Bu Menggung pada 1990-an silam. Di tangan generasi ketiga, Kusuma Sari pun terus berinovasi dan semakin membuka diri. Ekspansi pun dilakukan untuk kali pertama oleh dua cucu Bu Menggung, Herwita Titi Sekartaji dan Endah Trisnowati, sebagai pewaris dengan membuka tenant di Food Park yang terletak di lantai 2 The Park Mall Solo  Baru, akhir Juni lalu.

Salah satu pewaris RM Kusuma Sari, Endah Trisnowati, pun bercerita tak mudah meyakinkan keluarga besar serta jajaran komisaris untuk mengembangkan rumah makan warisan ini di tempat lain. Mereka sempat khawatir jika rumah makan di Nonongan ini bakal sepi seandainya Kusuma Sari buka cabang.

“Kurang lebih satu tahun kami usul akan pengembangan ini sehingga komisaris legawa agar kami membuka yang baru. Kami modal nekat. Apalagi zaman sekarang banyak keuntungan yang bakal diperoleh dengan menempatkannya [tenant] di mal. Selama hampir sebulan, kami berhasil mendatangkan lebih banyak pelanggan. Selain itu, kami sudah punya nama sehingga masyarakat langsung tahu,” tutur cucu Bu Menggung ini kepada Solopos.com, Jumat (13/7/2018).

Dari Bu Menggung, Kusuma Sari yang menyajikan beragam hidangan khas Jawa yang kental akan pengaruh Belanda, Eropa, ini kemudian dipegang oleh dua anaknya, yakni Bambang Sarosa dan Endang Sariningsih. Bu Menggung ini juga merupakan ibu dari Sardono Waluyo Kusumo, sang maestro tari, sutradara film, dan koreografer kenamaan Indonesia. Setelah itu operasional Kusuma Sari diwariskan kepada generasi ketiga Bu Menggung, yakni Endah Trisnowati dan Herwita Titi Sekartaji.

Herwita Titi Sekartaji yang akrab disapa Tita mengakui tak mudah untuk menjaga warisan keluarga ini. Saat ditemui Solopos.com, di The Park Mall, Kamis (13/7/2018), Tita optimistis Kusuma Sari tak akan ditinggal pelanggan lantaran mereka berkomitmen untuk menjaga kualitas rasa serta bahan-bahan yang dijadikan hidangan rumah makan ini. Ini pun sudah dibuktikan dengan bertahannya rumah makan ini selama kurang lebih 20 tahun. Tak hanya pemilik yang terus estafet hingga ke generasi ketiga, urusan dapur pun juga mengalami regenerasi.

“Kualitas rasa dan bahan-bahan untuk hidangan terus kami jaga. Jika harga bahan baku naik, kami tak akan mengurangi porsi maupun kualitasnya. Maka, harga yang menyesuaikan, tapi pelanggan tak akan menyesal karena rasanya terjaga,” ujar perempuan berkacamata ini.

Tiga menu utama pun jadi idola customer, yakni kroket, selat, dan sup. Demi menjangkau pelanggan khususnya dari luar Kota Solo, hidangan favorit ini bisa dicicipi di Food Park The Park Mall Solo Baru. Kroket mayones khas Kusuma Sari ini dibanderol dengan harga Rp9.000, sementara kroket mini Rp19.000. Sementara untuk aneka sup, sup mekarsari Rp16.000, sup lapis Rp16.000, sup galantin Rp16.000, sup matahari Rp17.000, dan sup buntut Rp45.000.

Sedangkan seporsi selat segar dijual dengan harga Rp21.000 dan selat galantin Rp25.000. Menu steak pun bisa jadi pilihan dengan beragam variasi. Ada steak galantin Rp25.000, steak lapis Rp25.000, steak daging Rp25.000, dan steak lidah Rp26.000. Tak lupa stoop macaroni yang bisa dicicipi pelanggan hanya dengan harga Rp20.000 per porsi. Hidangan nasi goreng pun bisa dinikmati di tenant ini seharga Rp23.000. Sebagai dessert ada es krim Kusuma Sari yang khas dengan harga Rp25.000.

Bahkan, ia memberikan bonus berupa es krim jika pelanggan jajan di tenant ini dengan minimal pembelian Rp50.000. Promo ini berlangsung hingga 31 Juli nanti.

Customer Service Manager Kusuma Sari, Kussafitri, tak segan berbagi resep hidangan andalan ini. Perempuan yang sudah 30 tahun menangani katering Kusuma Sari ini bercerita sebenarnya Bu Menggung itu tidak bisa memasak. Adalah Mbah Atmo, juru masaknya yang konon merupakan mantan koki Keraton Kasunanan Solo lah yang membuat menu-menu ini. Resep ini kemudian diturunkan hingga sekarang juga dipegang generasi ketiga.

“Makanya menu-menu yang disajikan itu adalah sajian Keraton Solo,” ujarnya.

Jika di Indonesia biasanya kroket dibuat dari bahan utama kentang, kroket Kusuma Sari dibikin seperti menu aslinya dari Belanda, Croquette, yakni berbahan ragout, ayam, dan telur dengan bumbu utama seperti bawang dan merica.

Sementara sajian fusi Belanda Jawa, selat ini berisi sayuran seperti buncis, kentang, timun, selada, dan tomat. Ada dua pilihan untuk daging sapinya, selat segar dengan potongan daging, sementara selat galantin berisi olahan daging. Selat ini dilengkapi dengan saus yang tak terlalu manis dan cocolan yang disebut magelang. Fitri menyebut magelang ini bukanlah mayones yang acap ada pada sajian selat, tetapi dari tepung dicampur dengan margarin dan tanpa kuning telur.

Sedangkan stoop macaroni berbahan macaroni dan ayam kampung ditambah susu, telur, margarin. Sup mekarsari berisi daging ayam giling, jamur putih, jamur hitam, sosis, dan telur. Sementara kuahnya dengan kaldu ayam kampung dengan bumbu dasar bawang putih digeprek dan merica.

Menu steak galantin pun berisi daging sapi giling dengan potongan aneka sayur seperti wortel, kentang, tomat, kacang polong, selada ditambah potongan telur ayam rebus, dan mayones. Kuahnya dari kaldu sapi dengan bumbu bawang serta margarin. Sementara nasi goreng berbahan nasi dengan seasoning bawang dan cabe serta pelengkap seperti ayam, udang, lalu keju.

“Kami pakainya ayam kampung bukan ayam boiler karena rasa dan kualitasnya akan berbeda. Sup misalnya, bawang putih tidak diuleg, tapi digeprek dan disaring sehingga kuahnya bening,” jelasnya.

Tokopedia