Mangkrak, Hotel Milik Pengusaha Solo di Sragen Jadi Tempat Mesum

Warga dan pengunjung dari Jakarta melihat-lihat kondisi pariwisata di kawasan WKO, Dukuh Boyolayar, Desa Ngargosari, Sumberlawang, Sragen, Sabtu (14/7 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
15 Juli 2018 13:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Pemerintah Desa (Pemdes) Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, meminta pengelola membongkar bangunan eks-Hotel De Keraton di Dukuh Boyolayar, Desa Ngargosari, dibongkar lantaran bangunan mangkrak tersebut sering disalahgunakan sebagai tempat mesum.

Pemdes menilai keberadaan bangunan itu tak mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar. Desakan itu disampaikan Kepala Desa Ngargosari, Sumberlawang, Sragen, Suwarno, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (15/7/2018).

Suwarno menjelaskan dulu pembangunan hotel tersebut direncanakan diintegrasikan dengan keberadaan pacuan kuda di wilayah Desa Ngargotirto, Sumberlawang. Pengembangan pariwisata  di kawasan seputar WKO itu dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Sragen Untung Wiyono.

Namun sejak 2005, ada pemindahan aset pribadi di lahan dan bangunan Hotel De Keraton itu. “Aset itu sekarang milik pengusaha penginapan di Solo, RS. Kalau tidak salah, dulu milik Pak Untung kemudian dibeli pengusaha swasta itu. Sejak itu pembangunan hotel itu tidak dilanjutkan dan mangkrak sampai sekarang. Bangunan itu sekarang dihuni burung walet. Selain itu juga sering digunakan pasangan tidak resmi untuk pacaran atau berbuat mesum. Daripada tidak bermanfaat dibongkar saja,” ujarnya

Suwarno masih ingat sempat ada warga yang mengambil kayu terbengkalai di tempat itu akhirnya masuk penjara karena diadukan pemilik hotel itu. Dia mengatakan sudah tidak memperhatikan kawasan itu.

Suwarno justru mengembangkan kawasan wisata baru dengan menggunakan tanah warga di pinggiran WKO di lokasi tak jauh dari tempat itu. Pada 2017, Suwarno sudah mengalokasikan dana Rp70 juta untuk membuka akses ke lokasi baru yang sama-sama berada di wilayah Dukuh Boyolayar.

“Tahun ini saya mengalokasikan anggaran Rp400 juta untuk penataan kawasan wisata baru itu. Setelah jadi nanti, kami akan menarik tiket masuk. Hasilnya digunakan untuk pengembangan lainnya, seperti water boom, flying fox, dan fasilitas lainnya. Pemanfaatan tahan warga itu dilakukan dengan memorandum of understanding jangka panjang,” tuturnya.

Suwarno berharap pengembangan  pariwisata baru itu bisa mendambah pendapatan asli (PA) desa. Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Sragen, Tugiyono, mengaku tidak tahu menahu tentang keberadaan Hotel De Keraton itu.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sragen, I. Yusep Wahyudi, juga mengaku tidak mengetahui detailnya.