Proyek KA Bandara, Uang Miliaran Rupiah Siap Dibagikan ke Warga Boyolali

Trainset KRD untuk Bandara Internasional Adi Soemarmo (BIAS) Solo di PT Inka Kota Madiun, Selasa (8/5 - 2018). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
15 Juli 2018 16:15 WIB Aries Susanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Pelaksana proyek rel kereta api  (KA) akses Bandara Adi Soemarmo memastikan mulai pekan depan dana kompensasi pembebasan lahan warga sejumlah desa di Kecamatan Ngemplak, Boyolali, cair. Uang miliaran rupiah siap ditransfer ke rekening warga yang tanahnya terdampak.

Pemerintah juga kooperatif atas permintaan warga yang menginginkan sisa lahan mereka di tepian rel kereta yang tak memungkinkan dimanfaatkan untuk dibebaskan sekalian. Demikian diungkapkan Staf Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah, Dandung Iskandar, kepada Solopos.com ihwal perkembangan proyek pembangunan rel Kereta Bandara Solo, Jumat (13/72018).

Dandung menjelaskan saat ini warga yang sudah siap menerima pencairan dana kompensasi ialah warga Desa Sindon. Jika tak ada perubahan jadwal, awal pekan depan warga sudah menerima dana kompensasi melalui transfer ke rekening bank.

"Ada 13 bidang tanah di Desa Sindon yang sudah beres semua. Warga sudah sepakat dengan nominal kompensasi dan ukurannya," jelasnya.

Selain warga Desa Sindon, kata dia, dalam waktu dekat warga Desa Dibal juga segera menyusul menerima pencairan dana kompensasi lahan terdampak KA Bandara. Di Desa Dibal, kata dia, ada sekitar 100 bidang tanah yang bakal dibebaskan.

Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan Desa Sindon yang hanya 13 bidang tanah. "Beberapa kali, sudah kami sampaikan pengumuman hasil pengukuran kepada warga. Sebagian warga masih mengoreksi atas hasil ukuran tanah. Jadi, saat ini masih revisi," jelasnya.

Secara berturut-turut, petugas pembebasan tanah akan membebaskan lahan-lahan di Desa Pandeyan, Donohudan, serta Sawahan. Sejauh ini, kata Dandung, permasalahan pembebasan lahan tidak begitu berarti, kecuali soal hasil pengukuran lahan.

"Kalau soal nilai kompensasi rata-rata bisa menerima karena dihitung oleh tim appraisal independen. Kalau enggak puas, ya pakai sistem konsinyasi di Pengadilan Negeri," jelasnya.

Dandung juga menyebutkan ada cukup banyak warga yang meminta sisa-sisa lahan mereka yang sudah tak bisa pakai agar dibebaskan sekalian. Pertimbangannya, lahan-lahan tersebut sudah tak memungkinkan untuk ditanami lagi karena lokasinya berdekatan dengan rel, terlalu sempit, atau diapit tembok.

"Nah, permintaan warga ini ya kami akomodasi. Namun, nanti tentunya setelah pembebasan lahan yang pertama selesai," jelasnya.

Berdasarkan taksiran, dana yang dipakai pembebasan lahan warga mencapai sekitar Rp115 miliar. Anggaran itu bakal digunakan untuk membebaskan lahan di Desa Sawahan, Pandeyan, Donohudan, Dibal, Sindon, hingga Ngesrep.

Dandung memastikan setelah pembebasan lahan selesai proyek bakal dikebut. Sedikitnya, ada empat pelaksana proyek yang nantinya menggarap rel kereta api dari Sawahan hingga Ngesrep. "Target tetap seperti semula, 2018 sudah selesai," tegasnya.