Kunker ke MTA, Presiden Jokowi Ingatkan Keragaman Indonesia

Bupati Karanganyar, Juliyatmono, mengajak Presiden Jokowi, dua menteri, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, dan Pimpinan Pusat MTA, Ahmad Sukina, berswafoto di Mojogedang, Minggu (15/7 - 2018). (Solopos/Sri Sumi H)
15 Juli 2018 20:40 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Presiden Joko Widodo  meletakkan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Majlis Tafsir Al-Qur'an (MTA) di Dusun Tunggulsari, Desa Pojok, Mojogedang, Karanganyar, Minggu (15/7/2018).

Kegiatan itu mengakhiri rangkaian kunjungan kerja Presiden Jokowi di Soloraya sejak Sabtu (14/7/2018). Presiden sampai lokasi pukul 09.30 WIB. Dia disambut lebih dari 10.000 jemaah dari perwakilan warga dan simpatisan MTA dari berbagai daerah, dan warga sekitar.

Acara dibuka pembacaan ayat suci Alquran At-Taubah ayat 121-122. Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno; Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mochamad Basoeki Hadimoeljono; Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; Pangdam IV/Diponegoro, Mayor Jenderal TNI Wuryanto; Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono; dan lain-lain. Bupati Karanganyar, Juliyatmono, juga hadir.

Tokopedia

Pimpinan Pusat MTA, Ahmad Sukina, menyampaikan sambutan seusai penayangan selayang pandang Ponpes MTA dan profil Asrama Putri SMA MTA Solo. Ponpes MTA akan dibangun secara bertahap pada lahan 10 hektare. Prioritas pembangunan tahap pertama meliputi masjid, asrama, dan sekolah. Target pembangunan rampung selama delapan bulan.

"Total biaya Rp50 miliar. Dana dari warga dan simpatisan MTA, penyandang dana tidak terikat. Terima kasih andil presiden dalam pembangunan Ponpes MTA berupa satu unit asrama tiga lantai dan sejumlah uang tunai. Diserahkan langsung pada saya yang diberikan dua tahap," kata Sukina saat memberikan sambutan di hadapan tamu undangan.

Penyertifikatan 10 hektare tanah hak milik sudah rampung. Semula 43 sertifikat menjadi delapan sertifikat. Ponpes MTA di Mojogedang itu diharapkan dapat menerima santri angkatan pertama maksimal 100 santri putra pada tahun ajaran 2019/2020. Mereka akan ditempatkan pada tiga rombongan belajar.

"Sistem Kuliyatul Mu’alimin Al Islamiyyah (KMI) atau setara SMP dan SMA. Masa pendidikan enam tahun. Pendidikan umum dan diniyah. Program khusus menghafal Al Qur’an. Menyiapkan generasi penerus untuk berdakwah. Lulusan Ponpes MTA bertauhid, akhlak karimah, pandai Bahasa Arab dan Inggris aktif, dan hafiz," ujar dia.

Selain meletakkan batu pertama pembangunan Ponpes MTA di Mojogedang, Presiden Jokowi  juga meresmikan asrama putri SMA MTA Solo di Semanggi, Pasar Kliwon, Solo dengan menandatangani prasasti. Pembangunan asrama putri SMA MTA Solo setinggi empat lantai menelan biaya Rp15,5 miliar. Daya tampung asrama 460 orang.

"Diharapkan siswa belajar nyaman, istirahat cukup, memacu belajar lebih maju, dan kerasan di asrama. Dirancang dan dibangun tim internal MTA dan alumni SMA MTA," tutur dia.

Presiden Jokowi mengapresiasi langkah MTA membangun ponpes di Mojogedang. Jokowi menilai pembangunan akhlakul karimah dan tauhid menjadi benteng dari infiltrasi dan intervensi nilai-nilai budaya asing. Pembangunan akhlak dan tauhid adalah pekerjaan besar agar nilai-nilai Indonesia tidak berubah.

Budaya Asing

"Ini visi besar MTA terhadap dakwah. Ada sekolah, asrama, hall untuk olahraga dan fasilitas lain. Saat ini Indonesia banyak terkena infiltrasi, intervensi budaya asing tidak sesuai budaya dan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Pembangunan akhlakul karimah jadi pekerjaan besar agar nilai-nilai Indonesia tidak berubah," tutur Jokowi saat memberikan sambutan.

Pada kesempatan itu, Jokowi mengingatkan tamu undangan tentang keanekaragaman dan perbedaan di Indonesia. Indonesia negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Presiden Jokowi didampingi dua menteri, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, dan Pimpinan Pusat MTA, Ahmad Sukina, meletakkan batu pertama Ponpes MTA di Mojogedang, Minggu (15/7/208). (Solopos-Sri Sumi Handayani)

Sebanyak 263 juta penduduk, 17.000 pulau, 514 kabupaten/kota, dan 34 provinsi. Terdapat 714 suku dengan lebih dari 1.100 bahasa daerah. Jokowi mencontohkan saat dirinya datang ke Sumatera Utara. Masyarakat Sumatera Utara punya banyak cara untuk menyampaikan salam, seperti Horas, Mejuah-juah, Njuah-juah, dan lain-lain. Dia membandingkan dengan Singapura yang hanya memiliki empat suku dan Afghanistan tujuh suku.

"Saya sampaikan pada setiap konferensi internasional karena banyak kepala negara dan kepala pemerintah tidak tahu. Allah menganugerahi perbedaaan suku, agama, bahasa daerah, adat, tradisi. Syukuri. Saya ajak semua merawat ukhuwah islamiah, insaniyah, dan wataniyah," tutur dia.

Lelaki yang digadang-gadang mencalonkan diri kembali pada pemilihan presiden tahun 2019 itu juga menyinggung tentang pesta demokrasi. Pemilihan umum menjadi salah satu pemicu perpecahan antarwarga.

Pada akhir sambutan, Jokowi mengingatkan tentang Pancasila. Indonesia bisa bersatu karena memiliki Pancasila. "Pilpres sudah empat tahun lalu sampai sekarang masih dibawa-bawa. Tidak pernah Rasul ajarkan mencemooh orang lain. Bedakan kritik dan mencela. Tantangan yang dihadapi tidak gampang. Masyarakat makin matang, dewasa, dan tahu memilih pemimpin. Dilihat track record, prestasi, kinerja," jelas dia.

Jokowi menutup acara dengan membagikan dua unit sepeda. Satu unit jatuh ke tangan anggota MTA Cabang Jenawi 1, Dwi Astuti. Dia dapat menyebutkan lima sila Pancasila. Presiden memuji Dwi karena menyebutkan Pancasila dengan tegas dan jelas.

Sepeda kedua diserahkan kepada Penyuluh Agama Islan Kecamatan Mojogedang, Muhammad Ikhsanudin. Dia diminta menyebutkan sepuluh suku di Indonesia.

Kejadian tidak terduga terjadi seusai Jokowi menekan tombol sebagai tanda dimulai pembangunan Ponpes MTA. Dia didampingi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno; Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mochamad Basoeki Hadimoeljono; Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; Bupati Karanganyar, Juliyatmono, dan Pimpinan Pusat MTA, Ahmad Sukina.

Tiba-tiba Juliyatmono mengajak Jokowi dan yang lain berswafoto. Ulah Bupati membuat tamu undangan bersorak dan bertepuk tangan.