Train Naga Sepanjang 150 Meter Hiasi Langit WGM Wonogiri

Kartanah menerbangkan layang-layang train naga di Lapangan Wisata WGM Wonogiri, Minggu (15/7 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
15 Juli 2018 19:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Kartanah mengatur kerenggangan tali yang terpaut di kepala layang-layang berbentuk ular naga di Lapangan Wisata  Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (15/7/2018).

Setelah dirasa pas, dia menerbangkannya. Lelaki itu menarik kuat-kuat kepala layang-layang sepanjang 30 meter tersebut lalu menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Hal itu agar badan hingga ekor layang-layang diterpa angin.

Tokopedia

Saat kepala hingga ekor layang-layang naik, Kartanah menarik lebih kuat lagi untuk melawan daya tarik layang-layang. Dia berposisi seperti sedang bermain tarik tambang.

Dua rekannya membantu menarik dari belakang. Setelah posisi layang-layang stabil, Kartanah perlahan mengulur tali lalu mengaitkannya ke besi bak mobil pikap.

“Ini layang-layang train naga, masuk kategori layang-layang kreasi. Yang saya terbangkan ukuran paling kecil dan butuh tiga orang untuk menerbangkannya. Masih ada ukuran yang lebih besar dan panjang,” kata Kartanah, lelaki asal Tuban, Jawa Timur, itu.

Layang-layang itu salah satu dari puluhan peserta Festival Layang-Layang Road Exibition 3 Cities 2018 yang diinisiasi Perkumpulan Pekarya Layang-Layang Indonesia (Perkalin). Wonogiri  merupakan lokasi terakhir festival tersebut.

Sebelumnya kegiatan yang sama digelar di Pantai Bayem, Tulungagung, pada 1 Juli dan Lapangan Pusat Latihan Tempur (Puslanpur) Marinir, Tuban, keduanya di Jawa Timur.

Pagi hingga sore langit di atas objek wisata  WGM dipenuhi layang-layang berbagai bentuk dan warna. Selain naga, ada layang-layang berbentuk ikan, ular kobra, karakter animasi, burung, dan lainnya. Ada pula bapangan.

Layang-layang tradisional Jawa itu dilengkapi sendaren yang bisa mengeluarkan bunyi. Kategori layang-layang tradisional turut dilombakan dalam festival tersebut. Panitia melombakannya sebagai bentuk upaya melestarikan produk budaya Nusantara.

Layang-layang tradisional bagian dari budaya yang mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Pekarya yang juga pelayang nasional, Agus Prasetyo, layang-layang train naga selalu menyita perhatian orang. Ukurannya berbeda. Paling besar berdiameter 70 cm dengan jumlah kepingan (badan-ekor layang-layang) 150 keping.

Jarak antar kepingan 150 cm, sehingga total panjang 150 meter. Talinya khusus terbuat dari bahan benang yang digunakan untuk panjat tebing. Biasanya berdiameter 22 mm. Butuh lebih dari 30 orang untuk menerbangkannya karena kekuatan tarikannya sangat besar.

“Saat festival layang-layang di Surabaya tahun lalu sampai menyeret dua unit truk. Jadi, orang bisa langsung ikut terbang kalau terikat di layang-layang itu,” ucap lelaki asal Tulungagung yang akrab disapa Pras tersebut.

Pelayang yang pernah menjuarai festival tingkat internasional itu melanjutkan train naga terbuat perpaduan bahan kain, fiber untuk rangka, dan tali pengait antarkepingan. Ukuran terbesar dibuat lebih kurang dua bulan. Kali terakhir dia menjualnya seharga mulai dari Rp7 juta.