Ada Tol Soker, Usaha Kuliner-Hotel Solo Bakal Sepi?

Presiden Jokowi (paling kanan) saat peresmian jalan Tol Colomadu-Sragen di Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Minggu (15/7 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
16 Juli 2018 11:15 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Keberadaan jalan tol Solo-Kertosono  (Soker) yang melintasi beberapa wilayah Soloraya diharapkan membawa dampak baik bagi perekonomian daerah. Terbukanya akses menuju Solo dengan adanya jalur tersebut diharapkan diimbangi optimalisasi potensi wilayah agar tetap menjadi daya tarik.

Pengamat ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, mengatakan keberadaan jalan tol akan menawarkan jalur transportasi yang lebih lancar. Melalui fasilitas tersebut perjalanan bisa dilakukan lebih cepat dan terhindar dari kemacetan.

Tokopedia

Untuk keperluan angkutan barang, hal itu menjadi fasilitas yang menguntungkan. Hanya, dengan adanya jalur tol kemungkinan akan menarik minat para pengguna kendaraan untuk melalui jalur tersebut untuk menuju suatu daerah. Dampak yang mungkin juga terjadi, jalur-jalur di tengah kota akan lebih sepi karena banyak yang beralih ke jalur tol Soker.

"Kalau yang lewat kota berkurang, bisa saja warung-warung yang sebelumnya ramai dikunjungi akan lebih sepi karena yang lewat juga berkurang," terang dia saat dihubungi Solopos.com, Minggu (15/7/2018).

Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, dibutuhkan terobosan dari pemerintah daerah. "Untuk kendaraan barang, mungkin akan banyak yang lewat tol. Tapi mobil-mobil pribadi [dari luar daerah] diharapkan bisa tetap lewat jalur kota. Untuk itu butuh kreativitas, harus ada hal yang menjadi daya tarik," kata dia.

Menurutnya saat ini daerah-daerah di Soloraya sudah mulai mengembangkan destinasi-destinasi yang memungkinkan menjadi daya tarik pengunjung dari luar daerah. Solusi lain adalah dengan memfasilitasi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk bisa menjual produknya di lokasi-lokasi strategis, misalnya kawasan yang terjangkau dari jalur keluar masuk tol.

Sementara itu dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surakarta berharap kontribusi positif dari adanya tol di sekitar Soloraya terhadap perkembangan pariwisata, perhotelan, kuliner, dan sebagainya. "Harapan kami seperti itu sebab saat ini kami belum bisa melihat efeknya secara langsung. Kemungkinan baru bisa dilihat satu atau dua tahun ke depan," kata Perwakilan PHRI Surakarta Bidang Humas dan Promosi, Sistho A. Sreshtho, kepada Solopos.com, Minggu.

Namun begitu menurutnya ada dua analisis yang muncul dari uji coba tol Soker  yang dilakukan selama momentum Lebaran kemarin. Analisis pertama, keberadaan tol akan membuat Solo dan sekitarnya semakin ramai karena akses masuk menuju Solo lebih banyak dan lebih terbuka.

Jalan tol memberikan kesempatan masyarakat luar Solo untuk masuk Solo dengan akses yang lebih lancar dan mudah. Hal tersebut akan menarik perhatian masyarakat di luar Solo untuk datang ke Solo.

Sedangkan analisis kedua, akan ada dampak yang berbanding terbalik. Solo akan lebih sepi karena hanya dilewati. Terbukanya jalur yang menghubungkan Jawa Timur dengan Semarang dan sekitarnya membuat orang berpikir untuk menggunakan jalur tersebut tanpa harus berhenti di Solo.

Jika sebelumnya pengguna jalan melewati Solo, bahkan bisa beristirahat di Solo, karena ada tol mereka sudah tidak perlu lagi berhenti di Solo. "Saat tol dibuka Lebaran lalu, ada satu pola yang terbentuk. Jika tahun-tahun sebelumnya saat H-2 Lebaran hotel sudah penuh, tapi tahun ini baru saat hari H saja mulai penuh. Tapi di sisi lain, lama menginap tamu meningkat," kata dia.

Menurut Sistho, hal tersebut bukan hanya tantangan dari perhotelan, namun keseluruhan Kota Solo dan sekitarnya. Menurutnya perkembangan hotel tidak dapat berjalan sendiri. Butuh dukungan dari bernagai aspek termasuk pariwisata, bandara, dan sebagainya. Dukungan dari pemerintah daerah pun dinilai sangat penting untuk mewujudkan daerah yang memiliki daya tarik.