Awas, Pagar Keliling TSTJ Solo Rawan Ambruk!

Kondisi tembok keliling TSTJ Solo yang rawan ambruk karena usia, Sabtu (14/7 - 2018). (Solopos/Nicolaus Irawan)
16 Juli 2018 12:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Bangunan pagar keliling Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) di Jl. K.H. Masykur, Jebres, Solo, rawan roboh lantaran usia tua. Warga diminta berhati-hati saat berada dekat tembok tersebut.

Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perusda) Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengatakan bangunan tembok keliling TSTJ sejak dibangun 1980-an hingga kini belum pernah diperbaiki. Kondisi ini mengakibatkan bangunan pagar tersebut rawan ambruk.

Tokopedia

Bahkan pagar sepanjang 50 meter tak jauh dari bekas tempat pembuangan sampah (TPS) Jurug telah ambruk. “Rencananya pagar akan dibangun ulang, kalau tidak, rawan ambruk,” katanya ketika dijumpai wartawan di Balai Kota, Jumat (13/7/2018).

Pembangunan pagar keliling itu terhambat banyaknya bangunan lapak pedagang kaki lima  (PKL) yang menempel ditembok pagar tersebut. Perusda TSTJ baru bisa membangun tembok jika kawasan itu sudah steril dari bangunan PKL. Pemkot Solo sudah mengagendakan sterilisasi bangunan PKL itu. “Jadi kami tunggu Pemkot dulu membersihkan lokasi itu,” katanya.

Selain rawan roboh, tembok keliling TSTJ mendesak dibangun karena mempertimbangkan keamanan satwa koleksi di kebun binatang kebanggaan Wong Solo itu. Tinggi tembok pagar keliling saat ini hanya 2,5 meter. Padahal idealnya tinggi tembok itu empat meter.

“Minimal nanti tembok keliling TSTJ sama seperti Taman Balekambang. Sehingga di lihat dari luar terlihat bersih dan rapi,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Solo Subagiyo menyebut dari total 145 PKL, masih ada puluhan PKL yang bertahan di sepanjang jalan barat pagar TSTJ. Sebagian besar mereka adalah pemilik bengkel motor, bahkan mobil, serta rumah makan dan hunian.

Mereka sebenarnya bukan termasuk kategori PKL, yang hakikatnya adalah penjual dengan menggunakan sistem bongkar pasang dan tidak menggunakan lapak sebagai hunian. Namun yang terjadi, bangunan di kawasan sepanjang Jl. K.H. Masykur rata-rata digunakan sebagai hunian dan tempat usaha bengkel motor, mobil, serta usaha rumah makan.

“Jadi kelasnya bukan lagi PKL, tapi masuk golongan pengusaha,” kata Subagiyo.

Pemkot Solo sudah beberapa kali melakukan sosialisasi terkait rencana penertiban bangunan di kawasan tersebut. Dalam upaya penertiban ini, Pemkot menyediakan ongkos bongkar Rp65.000 per meter persegi untuk bangunan permanen dan Rp50.000 untuk bangunan semi permanen.

Ongkos bongkar tersebut diberikan nontunai melalui rekening bank. Solusi lain, Pemkot menyiapkan relokasi di berbagai pasar tradisional di Kota Bengawan, salah satunya Pasar Panggungrejo dan Pucangsawit, Jebres. Dengan demikian, Pemkot berharap kepada seluruh PKL untuk bersedia menerima tawaran tersebut.

Kawasan tersebut akan dikembalikan lagi sesuai fungsinya untuk bahu jalan, trotoar, drainase, dan ruang terbuka hijau. Sosialisasi rencana menata kawasan barat TSTJ, termasuk perbaikan drainase telah dilakukan beberapa bulan lalu.

Seluruh bangunan tersebut akan dibongkar kemudian ditata salah satunya pembangunan drainase. Pembangunan drainase itu untuk mengatasi persoalan genangan air yang kerap terjadi di kawasan tersebut, terutama di dekat bekas tempat pembuangan sampah (TPS) Jurug.