Telur Mahal, Yang Pecah Pun Diburu Warga Sragen

Seorang pedagang menimbang telur di Pasar Bunder Sragen, Senin (16/7 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
16 Juli 2018 16:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Harga telur eceran di pasar tradisional Sragen saat ini Rp25.000/kilogram (kg). Harga telur tersebut terhitung turun dibandingkan dua hari lalu yang seharga Rp26.000/kg.

Akibat tingginya harga telur tersebut, telur yang retak atau pecah cangkangnya pun diburu pembeli karena harganya miring. Dinamika harga kebutuhan pokok tersebut diungkapkan sejumlah pedagang di Pasar Bunder Sragen.

Tokopedia

Ratna, 39, bakul grosir telur asal Banjarasri RT 004/RW 010, Nglorog, Sragen, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (16/7/2018), menyampaikan harga telur per Senin sudah turun dibandingkan dua hari lalu.

Harga grosir telur, sebut dia, mencapai Rp23.500/kg dari sebelumnya Rp24.500/kg. Harga telur  itu kalau dijual eceran mencapai Rp25.000/kg-Rp26.000/kg.

“Telur yang saya jual dari Magetan. Selama ini harga telur di Sragen belum sampai Rp27.000/kg. Kuncinya harga telur itu semakin ke barat semakin mahal dan semakin ke timur semakin murah. Sragen terhitung yang murah. Harga telur ideal itu di bawah Rp20.000/kg. Sekarang saja telur yang pecah atau retak-retak laku dijual dengan harga Rp20.000/kg-Rp21.000/kg. Telur-telur itu malah diburu pembeli,” ujar Ratna.

Belum genap lima menit, Ratna sudah mendapat permintan dari dua orang yang hendak membeli telur retak atau pecah. Ny. Didik, 73, warga Sragen, yang hendak membeli telur pecahan 2 kg itu. Karena barangnya tidak ada, Ny. Didik terpaksa membeli telur utuh 2 kg.

Pasokan telur di toko milik Ratna dikurangi karena animo masyarakat untuk beli telur turun. “Saya biasa menyetor ke bakul-bakul. Biasanya bisa sampai 4-5 ton per hari. Sekarang paling hanya bisa 3 ton,” tambahnya.

Pedagang telur asal Taman Asri RT 041/RW 015, Kroyo, Karangmalang, Sragen, Warti, 32, mengaku menjual telur Rp25.000/kg. Dua hari sebelumnya, Asti menjual telur dengan harga Rp26.000/kg.

Dia menilai tingginya harga telur  disebabkan pasokan barang menurun. Hal itu juga diiringi harga daging ayam yang tinggi pula.

“Pembeli menjadi lesu. Waktu harga telur Rp20.000/kg cukup ramai, sekarang dengan Rp25.000/kg kadang laku dan kadang tidak,” ujarnya.