Kisah Unik: Tradisi Pernikahan Ratusan Tahun Hidup Lagi di Klaten

Para pemanah beraksi di Gladen Ageng Pernikahan Unik di Klaten, Minggu (15/7 - 2018). (Solopos/Sunaryo HB)
16 Juli 2018 07:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kisah unik berupa resepsi pernkahan unik terjadi di Klaten. Walimatul ursy atau pesta pernikahan biasa digelar di gedung atau di bawah tenda. Tempat duduk tamu undangan mengarah ke kursi pelaminan dihibur alunan musik hingga pengajian.

Namun, suasana berbeda dihadirkan pada pesta pernikahan yang digelar di lapangan sepakbola Dodiklatpur Rindam IV Diponegoro Klaten, Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, Minggu (15/7/2018). Kursi tamu berjajar di bawah tenda sepanjang lapangan sepakbola.

Tak menghadap ke kursi pelaminan, pandangan para tamu diarahkan ke lapangan. Sembari menyantap hidangan yang disuguhkan, mereka menyaksikan para pemanah tradisional beradu ketepatan mengarahkan anak panah ke papan sasaran. Suara desing anak panah bersahutan dengan tabuhan genderang. Suara itu seakan menggantikan alunan musik yang biasa terdengar saat pesta pernikahan digelar.

Bambang Minarno mengenakan pakaian adat Jawa berkuda sebelum memanah papan sasaran saat pesta pernikahan putranya, Muhammad Yahya Ayyas, 17, di lapangan Dodiklatpur Rindam IV Diponegoro Klaten, Minggu (15/7/2018). (Solopos-Taufiq Sidik) 

Pakaian yang dikenakan para pemanah pun unik. Mereka mengenakan beragam pakaian tradisional seperti pakaian adat Jawa, Aceh, Nusa Tenggara Barat, hingga Makasar. Ada pula pemanah yang mengenakan jubah dan surban ala Pangeran Diponegoro. Demikian pula dengan para wanita ada yang mengenakan cadar. Aksi pemanah berkuda menjadi hiburan lain yang dihadirkan pada pesta pernikahan tersebut.

Aksi pengantin laki-laki beserta ayahnya menjadi hiburan puncak bagi para tamu. Sembari berkuda, ayah dan anak yang mengenakan pakaian adat Jawa itu mengarahkan anak panah pada target sasaran berupa kendi hingga potongan logam di puncak bambu berdiri. Para tamu sesaat meletakkan makanan yang disuguhkan kepada mereka untuk sekadar bertepuk tangan ketika ayah dan anak itu berhasil melesatkan anak panah pada target sasaran.

Para pemanah tradisional membidik papan sasaran saat digelar pesta pernikahan yang dikemas dengan gladen ageng panahan tradisional di lapangan Dodiklatpur Rindam IV DIponegoro Klaten, Minggu (15/7/2018). (Solopos-Taufiq S)

Konsep pernikahan yang tak biasa itu digelar pada upacara ngunduh mantu pasangan pengantin Muhammad Yahya Ayyas asal Desa Jagalan, Kecamatan Karangnongko, Klaten dan Royhanah asal Kabupaten Wonosobo itu. Pesta pernikahan dilakukan dengan menggelar gladen ageng atau latihan bersama berskala besar. Sebanyak 99 pemanah tradisional dari 12 provinsi tampil. Mereka merupakan para pemanah yang tergabung pada Komunitas Panahan Berkuda Indonesia (KPBI).

Bambang Minarno yang merupakan ayah dari pengantin laki-laki, Ayyas, merupakan ketua KPBI cabang Jogja-Solo. Ide menghadirkan gladen ageng pada pesta pernikahan muncul dari usulan para anggota komunitas.

Bambang yang merupakan salah satu pengusaha kuliner asal Klaten itu menjelaskan konsep pernikahan dirancang selama sebulan. Konsep itu dihadirkan sebagai pertunjukan menghibur para tamu. Acara itu juga dimaksudkan untuk menghidupkan kembali budaya masa lampau yang telah lama menghilang.

Zaman Kesultanan

Muhammad Yahya Ayyas asal Desa Jagalan, Kecamatan Karangnongko, Klaten menunggang kuda sebelum memanah sasaran saat pesta pernikahannya digelar di lapangan Dodiklatpur Rindam IV Diponegoro Klaten, Minggu (15/7/2018). (Solopos-Taufiq Sidik)

Bambang menceritakan pada zaman kasultanan, gladen ageng kerap dihadirkan pada pesta pernikahan atau khitanan. Hiburan itu muncul pada zaman kerajaan Turki Usmani. Konsep itu lantas diadopsi kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Seiring perkembangan zaman, konsep hiburan tersebut mulai menghilang. “Kali terakhir sekitar 200 tahun lalu. Kami ingin menghidupkan kembali semangat tradisi masa lalu,” kata Bambang.

Tak sekadar hiburan, panahan tradisional juga memiliki beragam pelajaran. Ia mencontohkan ada adab adiluhung yang harus dipatuhi para pemanah. Memanah melatih melatih kesabaran dan kesigapan. Selain itu mengasah sikap rendah hati dan tidak meremehkan orang lain. “Semoga semakin banyak event lain yang bisa menghadirkan seperti ini,” katanya.

Para pemanah tradisional membidik papan sasaran saat digelar pesta pernikahan yang dikemas dengan gladen ageng panahan tradisional di lapangan Dodiklatpur Rindam IV DIponegoro Klaten, Minggu (15/7/2018). (Solopos-Taufiq Sidik)

Bambang mengatakan ada hadiah bagi para peserta gladen ageng. Mereka yang meraih nilai terbanyak berkesempatan menjalani pertandingan panahan di Malaysia dan Singapura.

Pengantin laki-laki, Muhammad Yahya Ayyas, bersyukur bisa menghadirkan hiburan memanah tradisional di hari bahagianya. Ia melangsungkan akad nikah pada 8 Juli lalu atau setelah tiga hari menginjak usia 17 tahun. Sementara, istrinya saat ini berusia 20 tahun. “Alhamdulillah sangat senang dan beruntung sekali bisa ada diantara orang-orang seperti ini,” kata sulung dari enam bersaudara itu.

Salah satu tamu undangan, Wijiyanto, 60, mengaku baru kali pertama menghadiri pesta pernikahan dengan konsep hiburan berupa panahan tradisional dan berkuda. Biasanya, ia mendatangi pesta pernikahan yang menghadirkan hiburan musik serta pengajian.

“Baru kali ini menikmati pesta pernikahan dengan hiburan panahan. Pesertanya bagus-bagus dari luar daerah bahkan ada yang dari Malaysia. Jauh sekali dengan pesta pernikahan lainnya. Ini asyik sekali,” kata warga Desa Blimbing, Kecamatan Karangnongko itu.