Koridor 4 BST Tak Jalan, Dishub Solo Ancam Putus MoU Damri

Bus Batik Solo Trans. (Solopos/Dok)
17 Juli 2018 10:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Perhubungan (Dishub) Solo mengancam bakal mencabut perjanjian pengelolaan bus Batik Solo Trans (BST) di koridor 1 (Bandara Adi Soemarmo-Palur) jika Perum Damri tak bersedia mengelola bus BST di koridor 4 (Terminal Kartasura-Palur via Jl. Adisucipto).

Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno, mengatakan Perum Damri telah menyatakan sikap atas tawaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk mengoperasikan bus BST koridor 4. Yang terbaru, kata dia, Perum Damri menjawab enggan mengoperasikan bus BST di koridor 4 jika tak mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Tokopedia

Perum Damri meminta subsidi dengan alasan tidak ingin merugi akibat mengoperasikan BST  di koridor 4. “Alasan Perum Damri menolak karena tidak ada subsidi. Mereka khawatir merugi jika mengelola bus BST di koridor 4,” kata Hari saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (16/7/2018).

Hari menegaskan Pemkot Solo tidak bisa memberikan subsidi kepada Perum Damri karena keterbatasan anggaran daerah. Dishub berharap Perum Damri bisa menanggung pembiayaan operasional bus BST koridor 4 secara mandiri.

Dia meyakini manajemen Perum Damri Cabang Solo dengan pengalamannya mampu melakukan hal itu. Hari ragu jika Perum Damri Cabang Solo selama ini mengalami kerugian besar gara-gara mengoperasikan bus BST di koridor 1.

“Pada intinya Perum Damri sudah tidak mau mengelola koridor 4. Tapi kami punya pilihan, kalau tidak mau kelola koridor 4, sebagai konsekuensinya Perum Damri harus melepas pengelolaan bus BST di koridor 1,” jelas Hari.

Hari mengatakan dalam waktu dekat Dishub bakal mengirim surat kepada manajemen Perum Damri guna memastikan kembali keputusan mereka terkait tawaran mengelola bus BTS di koridor 4. Apabila Perum Damri tak sanggup mengelola koridor 4, Dishub bakal mengalihkan tawaran kepada PT Bengawan Solo Trans (BST).

Dishub sekaligus bakal menawarkan pengelolaan bus BST  di koridor 1 dari Perum Damri ke PT BST. Dia meyakini PT BST bakal menerima tawaran itu mengingat koridor 1 termasuk lahan basah.

“Jika Damri tak bersedia, kami alihkan ke PT BST. Saya rasa mereka jelas mau. Kami akan sekaligus menyerahkan pengelolaan bus BTS di koridor 1 yang mesti dilepas Perum Damri. Untuk waktunya, kami belum bisa memastikan. Kami kirim surat dulu,” ujar Hari.

Berdasarkan catatan Solopos.com, Dishub sudah beberapa kali mendorong pengoperasian bus BST di koridor 4 tapi gagal. Kegagalan tersebut dikarenakan Dishub tak juga menerima kepastian dari Perum Damri.

Sebagai contoh, Dishub pernah menargetkan pengoperasioan bus BST di koridor 4 mulai September 2017 tapi nyatanya tak terjadi. Hingga akhir September, Dishub belum juga menerima surat kesanggupan dari Perum Damri.

Saat itu, Dishub menyayangkan sikap Perum Damri karena Pemkab sudah menyiapkan sarana pendukung seperti halte di jalur BST koridor 4. Halte bahkan sudah dipasang sejak April 2017.

Terpisah, General Manager (GM) Perum Damri Cabang Solo, Sentot Bagus Santoso, menyebut Perum Damri sebenarnya tidak menolak tawaran kerja sama Dishub Solo untuk mengoperasikan layanan bus BST koridor 4. Perum Damri siap saja mengelola bus di koridor tersebut asal diberikan subsidi.

Subsidi diperlukan Perum Damri untuk mengatasi kerugian yang bakal terjadi saat mengoperasikan bus BST di jalur atau rute baru.

“Kalau sekarang Damri diharapkan bisa mengoperasikan lagi bus di koridor 4 yang dulu adalah koridor 8, saya harus seizin Direksi Perum Damri pusat. Kalau direksi mengizinkan saya pun siap. Tapi karena trayek itu rintisan, sementara dari direksi mohon dibantu untuk diberikan subsidi. Saya yakin sebetulnya Pemkot sudah berusaha mengajukan ke Kemenhub tapi memang sampai sekarang belum terealisasi,” terang Sentot.