Rumah Terbakar, Warga Gurawan Terpaksa Tidur di Teras Tetangga

Warga menyelesaikan perbaikan rumah yang ikut terbakar pada 27 Juli 2018 lalu di Gurawan, Pasar Kliwon, Solo, Minggu (15/7 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
17 Juli 2018 14:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ingatan Maryati, 57, kembali ke saat bencana kebakaran melanda pabrik tekstil dan menimpa tujuh hunian di Kampung Gurawan, Kelurahan Pasar Kliwon, Solo, Rabu (27/6/2018) lalu.

Siang itu, Maryati dan sang cucu tengah berada di dalam rumah yang hanya berukuran 9 meter x 2,5 meter. Bangunan rumahnya menempel persis di tembok pabrik tekstil yang terbakar. Sekitar pukul 13.30 WIB, Maryati mendengar jeritan para tetangga, “Kebakaran… kebakaran…!”

Tokopedia

Mendengar teriakan itu, Maryanti bersama sang cucu sontak berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Beberapa barang berharga diselamatkannya dibantu para tetangga. Tak butuh waktu lama kobaran api menghanguskan bangunan pabrik sekaligus tujuh bangunan rumah warga, termasuk rumah Maryati.

Sejak saat itulah, Maryati bersama korban kebakaran  lainnya harus mengungsi di rumah para tetangga yang lolos dari kebakaran. “Tidurnya di teras rumah Bu Rahayu. Rumah saya sudah tidak bisa dihuni lagi,” kata dia ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (15/7/2018).

Baru tiga malam terakhir ini Maryati bisa kembali menempati bangunan rumahnya meskipun sisa-sisa kebakaran masih terlihat di setiap sudut bangunan itu. Dana sumbangan dari para warga yang peduli dengan kondisi itu digunakan untuk memperbaiki atap rumah-rumah warga yang terbakar.

“Ya lumayan lah yang penting atapnya sudah ada, kalau bangunannya sih masih seperti itu [hangus dan rawan ambruk],” katanya.

Hal senada disampaikan korban lainnya, Agus Santoso, 48, yang merasa bersyukur kini bisa kembali menempati bangunan rumahnya yang hangus terbakar. Pendapatannya yang pas-pasan sebagai buruh pabrik tak mencukupi untuk memperbaiki bangunan rumah tersebut.

“Alhamdulillah ada warga yang peduli dengan kami,” katanya.

Meski sebenarnya sangat butuh bantuan, warga tak berharap banyak pada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Apalagi bangunan yang mereka tempati adalah liar karena berada di tanah negara. “Kami tahu diri, kami tinggal di tanah negara.”

Ketua RT 003/RW 007 Gurawan, Pasar Kliwon, Heru Yulianto, mengaku miris melihat kondisi warganya yang menjadi korban kebakaran. “Mereka harus tidur di teras rumah warga. Ada juga yang tidur di luar,” katanya.

Karena itulah, warga bergotong royong dan dana dari berbagai pihak yang berdatangan untuk membantu digunakan untuk memperbaiki rumah-rumah warga tersebut. Sejauh ini belum ada bantuan dari Pemkot Solo bagi para korban kebakaran.

“Dana murni dari warga sekitar sini dan kampung-kampung sebelah yang merasa kasihan dengan mereka,” katanya.