4 Kelurahan Solo Ini Ditunjuk BNNK Jadi Kampung Antinarkoba

Penandatanganan pakta Komitmen Bersama untuk Memerangi Penyalahgunaan Narkotika pada upacara Hari Anti Narkotika Internasional di Balai Kota Solo, Selasa (17/7 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
17 Juli 2018 21:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Solo membentuk kampung antinarkoba di empat kelurahan Kota Bengawan. Hal itu sebagai upaya memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkotika.

Plt. Kepala BNNK Solo Kompol Edison mengungkapkan Solo merupakan kota dengan peredaran dan penyalahgunaan narkoba tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah Semarang. Merujuk data, selama 2017 tercatat ada 159 kasus narkoba di Solo dengan 181 tersangka.

Perinciannya tersangka pengedar 53 orang, kurir 33 orang, bandar satu orang, serta pengguna 55 orang.

“Hingga Juli tahun ini ada 58 kasus narkotika dengan 70 tersangka,” ungkap Edison ketika dijumpai wartawan seusai Upacara Peringatan Hari Anti Narkotika di halaman Balai Kota, Selasa (17/7/2018).

Guna menekan angka kasus narkotika  di Solo, BNNK membentuk kampung antinarkotika. Sebagai pilot project kampung antinarkotika dibentuk di empat kelurahan, yakni Jebres, Gajahan, Semanggi, dan Pajang.

Selanjutnya kampung antinarkotika akan dibentuk di seluruh kelurahan di Kota Solo. Pembentukan kampung anti narkotika ini datang dari masyarakat yang peduli akan ancaman narkoba.

“Nanti ada satuan petugas [satgas] antinarkotika yang dibentuk di kampung itu,” katanya.

Edison mengatakan pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkotika  tidak bisa dilakukan BNNK saja. Butuh kerja bersama dengan melibatkan berbagai pihak, seperti Pemerintah Kota (Pemkot) serta masyarakat.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengajak seluruh elemen masyarakat memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkotika. Berbagai upaya juga akan dilakukan Pemkot Solo untuk memerangi peredaran narkotika di Solo.

Salah satu upayanya membentuk satgas-satgas antinarkotika di seluruh kelurahan. Selain itu pula akan menata kawasan-kawasan padat penduduk yang dinilai rawan peredaran narkotika.

“Kami juga akan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang ancaman bahaya narkoba baik lewat sanja warga atau mider praja,” katanya.

Rudy juga berjanji memerangi narkotika di lingkungan Pemkot. Aparatur sipil negara (ASN) akan dijatuhi sanksi berat hingga pemecatan jika terbukti mengonsumsi narkoba.

Tes narkoba bagi seluruh ASN di lingkungan Pemkot juga akan ditingkatkan. Dalam kesempatan itu, Wali Kota menandatangani Pakta Antinarkoba dengan BNNK Solo bertepatan dengan Upacara Hari Anti Narkotika 2018. Penandatanganan ini merupakan wujud kepedulian Pemkot dalam penanganan kasus narkoba.

Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Yulistianto, saat membacakan sambutan Presiden Joko Widodo, mengatakan perang besar terhadap narkoba menuntut seluruh komponen masyarakat maupun elemen bangsa untuk bergerak secara aktif melawan kejahatan terorganisasi yang bersifat lintas negara.

Kejahatan narkotika merupakan kejahatan luar biasa yang harus diatasi secara serius. Jika tidak ditangani secara serius akan menjadi senjata melumpuhkan kehidupan berbangsa dan bernegara.