Bocah 12 Tahun Trauma Pencabulan, APPS Sragen Ngontak Kak Seto

ilustrasi pencabulan. (Solopos/Whisnu Paksa)
17 Juli 2018 07:40 WIB Kurniawan Sragen Share :

 

Solopos.com, SRAGEN -- Bocah berumur 12 tahun berinisial Z yang pernah menjadi korban pencabulan  oleh gurunya, Sw, 59, hingga saat ini masih mengalami depresi dan trauma akibat perlakuan yang dialaminya beberapa waktu lalu. Bocah perempuan asal Gemolong, Sragen, itu takut bertemu laki-laki.

Tokopedia

Untuk membantu menyembuhkan kondisi mental Z sekaligus meringankan bebannya, Ketua Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS), Sugiarsi, mengatakan sudah menghubungi pemerhati anak, Kak Seto.

"Ada tujuh korban yang melapor dan menjadi saksi dalam kasus ini. Tapi yang hingga kini masih depresi tinggal Z," ujar dia saat diwawancarai wartawan di sela-sela kunjungan ke rumah Z, Senin (16/7/2018).

Menurut Sugiarsi, hingga kini Z masih trauma bila bertemu laki-laki. Karena kondisinya itu pula Z tidak melanjutkan sekolah ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP).

Sugiarsi telah menghubungi pemerhati anak, Kak Seto, ihwal kondisi yang dialami Z. Dia berharap Kak Seto berkunjung ke Sragen untuk menemui korban pencabulan  dan memberikan support.

"Kalau memang sudah tidak memungkinkan bersekolah di sekolah umum, mudah-mudahan bisa ikut homeschooling-nya Kak Seto. Ini penting sebagai bagian pemulihan hingga tuntas," kata dia.

Ihwal proses hukum kasus pencabulan tersebut, menurut Sugiarsi, berkasnya sudah dinyatakan P21 (lengkap), dan tinggal menunggu jadwal persidangan. Dia berkomitmen mengawal kasus itu.

"Tersangka Sw sudah ditahan, kasusnya sudah P21. Tinggal kami kawal prosesnya di persidangan nanti. Kasus pencabulan anak adalah kasus pidana absolut yang tidak bisa dinegosiasikan," urai dia.

Sugiarsi menerangkan kasus pencabulan  terhadap para siswa di sekolah oleh Sw diduga terjadi sejak 2010. Tapi kasus tersebut baru dilaporkan ke APPS dan polisi sekitar Maret 2018.

Tujuh korban yang tercatat di APPS berinisial TS, Z, SF, SP, ML, FS, dan SH. Rata-rata umur mereka 12 tahun. Selain mereka Sugiarsi meyakini masih banyak siswa lain yang jadi korban.

"[Korban Sw] Sebenarnya banyak tapi yang lapor kepada kami hanya itu [tujuh anak]. Memang tidak sampai terjadi persetubuhan, hanya [alat vitalnya] dipegang-pegang dalam jangka waktu lama," kata dia.

Kedatangan APPS ke kediaman Z bersama seorang pengusaha peternakan asal Jakarta, Tri Agus Bayu Seno. Laki-laki kelahiran Gemolong tersebut mengaku prihatin dengan kondisi para korban.

Dalam kesempatan itu dia memberikan santunan kepada keluarga Z dan memberikan motivasi agar Z bisa kembali menjalani hidupnya dengan ceria dan tak terus menerus bersedih.

"Saya sampaikan agar Z bisa kembali ke kehidupan masyarakat. Nanti akan kami carikan solusi konkretnya. Apakah perlu dibawa untuk mengikuti terapi psikologis atau pendekatan lain," tutur dia.

Bayu menyatakan anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus dilindungi dari berbagai kekerasan, termasuk seksual. Jangan sampai anak justru menjadi objek kekerasan.