Peluang Usaha, Manfaatkan Perca Jadi Karya

Nunik Dwi Maryati menunjukan kerajinan tangan buatannya di rumahnya, Dusun Pule, Desa Pule, Selogiri, Wonogiri, Sabtu (13/7 - 2018) pagi. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
17 Juli 2018 12:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Puluhan kerajinan  tangan seperti dompet, tempat pensil, boneka, tempat tisu, tudung saji, kalung, hingga selimut berjajar rapi di ruang bagian depan rumahnya. Bentuknya beragam dan berwarna-warni, termasuk ada juga yang bermotif batik Wonogiren, batik asli Kabupaten Wonogiri.

Tak tampak sedikit pun semua kerajinan tangan itu terbuat dari bahan perca atau potongan kain sisa jahitan dan barang bekas lainnya. Barang-barang kerajinan di Rumah Perca, Dusun Pule, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, itu hasil karya si pemilik rumah, Nunik Dwi Maryati, 52.

Tokopedia

Nunik memiliki keahlian menjahit dan merias pengantin dari leluhurnya. Perempuan dari tujuh bersaudara tersebut melihat peluang usaha ketika sisa-sisa kain dari menjahit hanya dibiarkan berserakan. Nunik dan adik-adiknya memang menjadikan menjahit sebagai pekerjaan.

“Sejak kecil saya tidak pernah membeli baju, hanya membeli bahan kain lantas dijahit oleh orang tua saya. Hal ini menurun pada saya dan saudara-saudara saya. Lalu kain sisa-sisa jahitan dibuat menjadi dompet atau mainan,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Sabtu (13/7/2018) pagi.

Empat tahun lalu Nunik mulai menekuni usaha membuat kerajinan dari bahan kain perca. Ia tak menyangka hanya bermodal limbah kardus dan kain perca dapat membuat benda dengan nilai ekonomis tinggi.

Berawal dari mengikuti pameran dan tak malu mengikuti pelatihan Nunik mulai kebanjiran pesanan. Cinderamata untuk pesta kawinan atau oleh-oleh mulai ia pasarkan ke seluruh wilayah di Pulau Jawa.

Dari jualan kerajinan seharga Rp2.500 hingga Rp300.000 per biji tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya itu Nunik mendapat omzet jutaan rupiah per bulan. Momen Lebaran, momen tren batu akik, dan berbagai momen lain ia manfaatkan untuk menawarkan hasil kerajinannya.

Momen Lebaran lalu Nunik membuat dompet kecil dari kain perca dengan bentuk hewan-hewan agar anak kecil dapat menaruh hadiah Lebarannya dengan perasaan senang. Nunik berusaha menyesuaikan selera pasar dengan momennya.

Setelah kebanjiran pesanan, Nunik mulai mengajak ibu-ibu dari dusunnya untuk membuat kerajinan. Nunik mengajari tujuh ibu-ibu dusun untuk membuat kerajinan itu tiga kali dalam sepekan. Kini ia tidak kelabakan lagi ketika kebanjiran pesanan, ibu-ibu dusun pun mendapat penghasilan tambahan.

Tumpukan kain perca hampir selalu menggunung menunggu menjadi kerajinan dengan nilai guna tinggi. Nunik tak pernah kekurangan bahan baku kain perca karena selalu ada dari para saudaranya yang bekerja sebagai penjahit. Namun, ia masih kekurangan sumber daya manusia yang mau belajar memanfaatkan peluang secara sukarela.

Ramadan lalu, anggota Himpunan Ahli Rias Wonogiri itu berbagi ilmu dengan para narapidana di Rumah Tahanan Kelas IIB Wonogiri. Puluhan narapidana ia ajari cara membuat kerajinan dari kain perca. Tak hanya perempuan, pria pun antusias belajar keterampilan yang ia bagikan secara sukarela sebagai bekal mereka ketika kembali ke masyarakat.