PT BST Siap Ambil Alih Koridor 4 dari Perum Damri, Asal...

Bus Batik Solo Trans. (Solopos/Dok)
18 Juli 2018 09:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- PT Bengawan Solo Trans (BST) belum menerima penawaran secara resmi dari Dinas Perhubungan (Dishub) Solo untuk menggantikan Perum Damri mengoperasikan bus Batik Solo Trans (BST) di koridor 4 maupun koridor 1.

Direktur PT BST, Farida Wardhatul Jannah, enggan memberikan pernyataan sikap terkait bersedia atau tidak jika diminta Dishub menggantikan Perum Damri mengoperasikan bus BST di koridor 4 (Terminal Kartasura-Palur via Jl. Adisucipto dan koridor 1 (Bandara Adi Soemarmo-Palur).

Dia ingin menghargai proses negosiasi yang tengah berlangsung antara Dishub dengan Perum Damri terkait rencana pengoperasian bus BST di koridor 4. Farida berharap proses negosiasi tersebut bisa berjalan lancar dan membuahkan kesepakatan yang saling menguntungkan.

"Sampai hari ini Dishub memang belum rasan-rasan dengan saya terkait pengoperasian bus BST di koridor 4 maupun koridor 1. Maka dari itu, saya belum bisa komentar banyak. Biar diputuskan dulu oleh Perum Damri," kata Farida saat diwawancarai Solopos.com di Solo, Selasa (17/7/2018).

Farida menyampaikan pengelolaan bus BST koridor 4 sejak awal telah ditentukan menjadi hak dari Perum Damri. Oleh sebab itu, dari awal pun Dishub langsung memberi penawaran pengoperasian bus BST di koridor 4 kepada Perum Damri, bukan ke PT BST.

Begitu juga ketika Dishub ingin membuka pelayanan bus BST  di koridor 2 dan koridor 3. Karena sebelumnya rute di koridor 2 dan koridor 3 tersebut dikelola perusahaan bus yang kini bergabung dalam konsorsium PT BST, pengoperasian bus BST di koridor 2 dan koridor 3 kemudian diserahkan ke manajemen PT BST.

"Kalau koridor 4 mau dikasihkan ke PT BST, ya kami oke-oke saja. Tapi dengan catatan pembahasan antara Dishub dan Perum Damri sudah harus benar-benar klir dulu," jelas Farida.

General Manajer (GM) Perum Damri Cabang Solo, Sentot Bagus Santoso, menceritakan Perum Damri dulu pernah mengelola layanan bus umum di koridor 4 saat masih disebut koridor 8. Namun di awal pengoperasian layanan bus umum di koridor tersebut, Perum Damri mendapat kecaman dari awak angkutan kota (angkuta).

Perum Damri saat itu dianggap menyerobot penumpang mereka. Para sopir dan kernet angkuta sampai berdemo. Meski demikian, Sentot bilang pada dasarnya Perum Damri siap kembali mengoperasikan layanan bus di koridor 4. Hanya, dia menegaskan Perum Damri butuh subsidi dari pemerintah.

"Jelas kalau bus kota di mana pun berada pasti ada biaya operasionalnya. Kebutuhan operasionalnya dibandingkan dari potensi load factor penumpang. Kami punya harapan kekurangan biaya operasional yang tidak bisa ditutupi dari pendapatan retribusi penumpang diberikan subsidi dari pemerintah," jelas Sentot.