Waduk Botok Sragen Kering, 700 Ha Tanaman Padi Terancam

Warga melintasi jalan inspeksi di pinggir Waduk Botok Kedawung, Sragen, Selasa (17/7 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
18 Juli 2018 21:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Para petani penggarap sawah seluas 700 hektare di daerah aliran irigasi Waduk Botok Kedawung, Sragen, nekat menanam padi meski Waduk Botok yang menjadi sumber pasokan air pertanian mereka mengering  sejak sebulan lalu.

Sementara para petani penggarap sawah seluas 1.788 hektare lainnya memilih membiarkan lahan mereka bera, tidak tanam padi maupun palawija. Waduk yang dibangun pada masa kolonial Belanda 1942 itu mengairi lahan sawah seluas 2.488 hektare.

Tokopedia

Petugas Pemantau Waduk Botok Kedawung, Sragen, Riyin Novianto, saat berbincang dengan Solopos.com di Kantor Kemantrian Pengairan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) di Botok, Kedawung, Sragen, Selasa (17/7/2018), menyampaikan Waduk Botok memiliki jangkauan irigasi di 13 desa.

“Kondisi waduk sudah mengering  selama sebulan terakhir. Kondisi tersebut sudah kami laporkan BBWSBS," jelas dia.

Kekeringan di Waduk Botok itu disebabkan beberapa faktor. Pertama, sumber utama air Waduk Botok, yakni dari Muning dimanfaatkan Perusahaan Daerah Air minum (PDAM) untuk pelayanan air bersih. Kedua, sejumlah pengusaha swasta ikut mengambil air di hulu Waduk Botok untuk diperjualbelikan dengan menggunakan mobil tangki.

Selain itu, Riyin menyampaikan pembangunan Waduk Gondang di Karanganyar berdampak pada peningkatan sedimen di Waduk Botok dengan ketebalan 1-2 meter. Pendangkalan Waduk Botok berakibat pada kapasitas tampung air di waduk yang semakin mengecil.

Di sisi lain, Riyin melihat Waduk Botok tidak memiliki sungai lintasan yang berfungsi menghalau sedimen dan sampah masuk waduk. Atas dasar itulah, Riyin sebenarnya sudah menyosialisasikan kepada petani agar tidak tanam padi karena pasokan airnya nyaris tidak ada.

Namun dari upaya sosialiasi itu, Riyin mencatat ada 700 hektare lahan yang tetap ditanami padi sementara sisanya 1.788 hektare dibiarkan bera. “Saya tidak tahu sumber air para petani untuk mencukupi kebutuhan tanaman padinya dari mana. Saat ini umur padi baru sekitar 30 hari. Lahan seluas 700 hektare yang ditanami padi itu berada di Desa Mojodoyong, Kedawung,” ujar Riyin.

Dia mencatat ada tujuh waduk di bawah pengelolaan BBWSBS, yakni Waduk Botok, Waduk Brambang, Waduk Gembong, Waduk Kembangan, Waduk Blimbing, Waduk Gebyar, dan Waduk Ketro. Dari tujuh waduk itu baru tiga waduk yang kering, yakni Waduk Botok, Waduk Gebyar, dan Waduk Gembong. Selebihnya Riyin tak mengetahui dengan pasti.

Sementara itu, Niti, 73, petani asal Dukuh Sidorejo, Mojodoyong, Kedawung, Sragen, mengatakan para petani di Mojodoyong memang berspekulasi menanam padi. Dia mengatakan para petani hanya bisa menunggu kiriman hujan untuk menyelamatkan tanaman padi bila susah mendapatkan air irigasi.

Dia mengungkapkan areal persawahan di Mojodoyong nyaris tidak ada sumur pantek. “Hanya ada sumur pantek satu milik pribadi yang dibangun dengan dana Rp65 juta. Ya, sumber utama air irigasinya hanya dari Waduk Botok dan sekarang sudah kering. Ya, idep-idep kalah main [rugi] kalau memang tidak bisa panen. Petani masih optimistis bisa panen,” ujarnya.