Lokasi Darurat Belum Siap, Siswa SD Masahan Boyolali Tak Bisa Belajar

Situasi SD Masahan, Kecamatan Mojosongo, Senin (16/7 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
18 Juli 2018 07:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa SD Masahan, Kelurahan/Kecamatan Mojosongo, Boyolali, pada hari kedua tahun ajaran baru (TAB) 2018/2019, Selasa (17/7/2018), belum bisa berjalan.

Ruang aula Kantor Kecamatan Mojosongo yang akan menjadi ruang kelas darurat belum siap, sedangkan sebagian perlengkapan kelas di sekolah  sudah tidak ada karena sudah dipindah. SD Masahan dibongkar karena akan dipindah ke wilayah lain di kelurahan yang sama.

Berdasarkan pantauan Solopos.com di kantor kecamatan yang berada tak jauh dari SD Masahan, Selasa pagi, ruang aula yang akan dijadikan ruang kelas IV masih kosong. Meja-kursi yang sudah dipindah dari bangunan SD yang dibongkar masih menumpuk di garasi di halaman kantor.

Pekerja terlihat memotong kayu-kayu yang akan dipakai sebagai sekat antarkelas. Sementara itu, kantor-kantor milik instansi lain di dalam kompleks kantor kecamatan yang juga akan dijadikan kelas darurat juga belum bisa digunakan.

Pantauan di SD Masahan, ruang kelas III dan IV sudah kosong karena meja-kursi sudah diboyong ke kantor kecamatan. Sementara ruang kelas lain sudah rata dengan tanah.

Sebagian siswa terlihat bermain di halaman atau membeli jajanan di kantin. Sementara sebagian siswa lain ada yang duduk-duduk bergerombol di lingkungan sekolah  dan ada pula yang bersih-bersih di kelas yang tersisa.

Kondisi siswa ini terjadi akibat dibongkarnya sebagian bangunan sekolah, menyusul rencana relokasi SD masahan ke wilayah lain di kelurahan yang sama. Relokasi ini terkait pembangunan rumah tahanan (rutan) baru Boyolali di tempat tersebut.

Kepala Sekolah SD Masahan Darmisih mengatakan terkait rencana relokasi sekolah sebagian bangunan mulai dirobohkan. Rencananya, bangunan yang dibongkar adalah ruang guru dan ruangan lain yang tidak mengganggu KBM siswa sehingga KBM tetap berjalan sambil menunggu sekolah baru selesai dibangun sekitar Desember mendatang.

Sayangnya, ada miskomunikasi dengan pelaksana proyek pembongkaran sehingga bagian sekolah yang dibongkar terlebih dahulu justru ruang kelas. “Ada miskomunikasi soal pembongkaran. Yang seharusnya kelas dibongkar belakangan, justru malah didahulukan,” ujarnya saat ditemui di sekolah, Selasa.

Sebenarnya, lanjut Darmisin, hal ini masih bisa disiasati dengan relokasi KBM ke ruang-ruang sekolah yang belum dibongkar, seperti ruang perpustakaan, masjid, ruang guru, dan lainnya termasuk KBM kelas VI harus lebih disiapkan menghadapi ujian akhir, dipindah ke perpustakaan yang paling jauh dari kebisingan dan polusi.

Namun, menurutnya ada desakan dari orang tua/wali murid agar semua siswa dipindah karena mereka khawatir anak-anak akan terdampak polusi suara maupun debu. Akhirnya pada Senin (16/7/2018) disepakati semua KBM siswa dipindah ke aula kantor kecamatan.

Karena mendadak, kantor kecamatan belum siap sehingga hari itu para siswa masih berada di sekolah, meskipun tetap tak bisa belajar di kelas. “Semoga besok [hari ini] di kantor kecamatan sudah beres semua,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali Darmanto meminta maaf kepada semua pihak atas ketidaknyamanan tersebut. “Saya selaku Kepala Dinas minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Kita akan awasi pekerjaan sebaik-baiknya sehingga pada Desember bangunan baru SD tersebut sudah bisa digunakan,” ujarnya.