Petani Sragen Demo Jika Debit Colo Timur Tak Ditambah

Ketua GP3A Sukoharjo, Sumarno, menyampaikan penjelasan pada pertemuan dengan BBWSBS di Kantor Pengelolaan Dam Colo Timur, Sragen, Kamis (19/7 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
19 Juli 2018 22:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tanaman pertanian  seluas 3.000-4.000 hektare di wilayah Sragen bagian timur terancam gagal panen lantaran air dari Saluran Colo Timur tidak sampai ke wilayah itu.

Aliran Colo Timur dengan debit 11 meter kubik per detik dari Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri hanya sampai wilayah Masaran, Sidoharjo, dan Desa Kedungwaduk, Karangmalang, Sragen.

Atas dasar itulah para petani pemakai air di wilayah Sragen bagian timur mendesak Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) untuk menambah debit air Colo Timur. Jika permintaan itu tidak dipenuhi, Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Sragen mengancam demo di Kantor BBWSBS.

Hal itu terungkap dalam pertemuan GP3A dari wilayah Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan Ngawi, Jawa Timur, dengan BBWSBS di Kantor Pengelola Colo Timur, Krikilan, Masaran, Sragen, Kamis (19/7/2018) siang. Pertemuan tersebut dipimpin Pelaksana Harian Seksi Pelaksanaan Operasional dan Pemeliharaan BBWSBS, Sabar.

Perwakilan dari Perum Jasa Tirta, Didit Dwi Nugroho, juga hadir dalam pertemuan itu. “Kalau Karanganyar 5 m3/detik saja bisa diatur tetapi kalau di Sragen tidak bisa. Wilayah Kedungwaduk ke bawah [timur] kalau tidak dialiri, Colo Timur itu boleh diuruk tidak? Sampai sekarang air tidak sampai ke timur, walaupun 1 liter pun. BBWSBS punya petugas di bawah tidak? Masa kondisi Sragen tidak tahu,” ujar Wakil Ketua GP3A Sragen, Tri Hartono, dalam forum itu.

Tri yang tinggal di wilayah Toyogo, Sambungmacan, Sragen, menyampaikan bila permintaan penambahan air dari Colo Timur tidak dipenuhi, ia mengancam akan mendatangkan massa petani ke BBWSBS. Dia mendesak supaya persoalan air itu bisa diselesaikan dengan baik.

Sementara itu, Pelaksana Harian Seksi Pelaksanaan Operasional dan Pemeliharaan BBWSBS, Sabar, menyampaikan persoalan pembagian air itu sebenarnya menjadi wewenang sepenuhnya pengurus GP3A masing-masing daerah. Dia menjelaskan pola yang sudah ada sebenarnya debit air di Colo Timur itu 11 m3/detik dan pada Rabu-Kamis menjadi 13,89 m3 per detik.

“Pembagian air itu mestinya menjadi kesepakatan GP3A dari semua daerah di sepanjang aliran Dam Colo Timur yang disesuaikan dengan luasan areal pertanian. Kalau di Sukoharjo itu ada 8.000 hektare, Karanganyar ada 3.400 hektare, dan paling banyak di Sragen ada 9.000 hektare. Dengan debit air 4-4,5 m3/detik itu mestinya cukup,” ujarnya.

Dia mengatakan kalau sampai tidak cukup berarti ada persoalan di internal mereka. Kepengurusan GP3A di Sragen itu, kata dia, ternyata ada dua kubu sehingga harus diselesaikan.

Sabar berencana memfasilitasi permasalahan di GP3A Sragen  dengan duduk satu meja pada pekan depan supaya tidak muncul konflik kepentingan.

Terpisah, Ketua GP3A Sragen Eka Widiastono mengumpulkan para pengurus P3A dari berbagai desa di Sragen untuk menindaklanjuti pertemuan dengan BBWSBS. Dia menyatakan GP3A Sragen untuk sementara menerima jatah air yang diberikan sambil menunggu hasil rapat berikutnya.

Dia berencana memberlakukan sistem gilir dengan penjadwalan. Untuk daerah mulai dari cekdam 14 di perbatasan Sragen-Karanganyar sampai cekdam 18 di Kedungwaduk, Karangmalang, dijadwal pada Jumat pukul 06.00 WIB sampai Senin pukul 06.00 WIB.

Kemudian untuk areal di bawah cekdam Kedungwaduk mendapat giliran Senin pukul 06.00 WIB sampai Jumat pukul 06.00 WIB. “Kami berharap ada pleno TKPSDA [Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air] untuk menentukan alokasi air. Selama ini baru ada sekali pleno dan itu pun masih merujuk alokasi 2016-2017. Padahal sekarang musim kering bukan musim basah,” ujarnya.

Upaya tersebut dilakukan Eka untuk mengantisipasi ancaman gagal panen pada areal tanaman padi seluas 3.000-4.000 hektare di wilayah Kedungwaduk ke timur.