Jl. S. Parman Mulai Diperbaiki, Solo Macet di Mana-Mana

Situasi Jl. S. Parman yang ditutup dari arah selatan karena ada perbaikan, Jumat (20/7 - 2018) siang. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
20 Juli 2018 16:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Penerapan arus lalu lintas sistem satu arah (SSA) di Jl. S. Parman,  Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo, yang tengah diperbaiki berdampak pada kemacetan arus lalu lintas di sejumlah jalan lain di Kota Bengawan.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Jumat (20/7/2018) pukul 11.00 WIB, kemacetan arus lalu lintas antara lain terjadi Jl. Monginsidi, Jl. D.I. Panjaitan, Jl. A. Yani, Jl. Letjen Sutoyo, hingga simpang Joglo.

Kemacetan di Jl. Monginsidi dipicu kendaraan dari arah Stasiun Solo Balapan dan Pasar Legi (selatan) tak bisa masuk Jl. S. Parman yang berlaku satu arah dari utara ke selatan. Sementara kemacetan di Jl. A. Yani ruas simpang Ringin Semar-perempatan Ngemplak akibat limpahan bus yang tak bisa masuk Jl. Monginsidi dari arah timur.

Bus yang menuju Terminal Tipe A Tirtonadi tak boleh masuk Jl. Monginsidi  karena Jl. S. Parman sedang diperbaiki. Bus dari arah Karanganyar, Sragen, dan Surabaya itu harus belok ke kanan setelah sampai simpang Ringin Semar.

Karena di Jl. A. Yani terdapat viaduk Gilingan, bus yang tingginya lebih dari 3,2 meter (m) mesti diarahkan memutar lewat simpang Joglo, Kelurahan Kadipiro. Adanya kebijakan tersebut otomatis membuat arus lalu lintas di Jl. Letjen Sutoyo dan Jl. Kol. Sugiyono pada Jumat siang ikut menjadi padat oleh bus yang akan ke simpang Joglo.

Keberadaan bus-bus antarkota antarprovinsi (AKAP) itu juga membuat arus lalu lintas di simpang Joglo makin semrawut. Kedatangan bus menghalangi laju kendaraan roda dua maupun roda empat di simpang Joglo baik yang ingin berputar masuk Jl. Piere Tendean, masuk ke Jl. Mangunsarkoro, masuk Jl. Manunggal, masuk Jl. Solo-Purwodadi, atau masuk ke Jl. Sumpah Pemuda.

Keberadaan bus tampak tak terlalu mengganggu arus lalu lintas ketika telah memasuki Jl. Ki Mangun Sarkoro, Jl. Singosari Timur, dan Jl. Popda. Hal itu bisa terjadi lantaran arus lalu lintasnya di tiga ruas jalan tersebut pada Jumat siang terpantau tak terlalu padat.

Kabid Lalu Lintas Dishub Solo, Ari Wibowo, mengatakan kemacetan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan di wilayah Banjarsari tersebut tak bisa dihindari. Kendaraan umum maupun pribadi mesti dialihkan ke ruas jalan lain saat Jl. S. Parman diperbaiki.

Dishub hanya bisa mengimbau masyarakat membuat manajemen waktu dan rute. Misalnya dengan berangkat lebih awal ke tempat kerja atau sekolah atau tidak melakukan perjalanan saat jam sibuk.

Masyarakat diharapkan juga melakukan manajemen rute yakni memilih jalan yang lebih jauh untuk menghindari kemacetan di seputaran Banjarsari. “Kami minta masyarakat bisa memaklumi dan menyesuaikan diri dengan adanya penerapan SSA di Jl. S. Parman ini. Kami mengimbau masyarakat melakukan manajemen waktu dan rute,” kata Ari kepada Solopos.com, Jumat.

Ari berkomitmen bakal terus memantau kondisi arus lalu lintas di seputaran Banjarsari selama penerapan SSA di Jl. S. Parman. Hal itu untuk mengumpulkan data sebagai bahan evaluasi setelah sepekan atau dua pekan SSA berlangsung.

Dia tak menampik simpang Pasar Nongko juga terdampak penerapan SSA Jl. S. Parman. Arus lalu lintas di seputaran Pasar Nongko terpantau kian macet karena sejumlah kendaraan dari arah Stasiun Solo Balapan maupun Pasar Legi memilih lewat sana karena tak bisa masuk Jl. S. Parman menuju ke Solo utara.

“Ada kaitannya dengan perlintasan kereta api. Artinya, kendaraan yang kali ini tak bisa menyeberang perlintasan sebidang Balapan otomatis harus mencari perlintasan sebidang terdekat. Salah satunya kan ada di depan Pasar Nongko. Jadi tidak menutup kemungkinan ada kendaraan yang memilih lari ke Pasar Nongko untuk menuju wilayah Solo utara,” jelas Ari.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Singgih Hari Sulistyo, 34, mengaku pasrah dengan kebijakan SSA di Jl. S. Parman. Laki-laki yang setiap harinya berjualan di Pasar Legi tersebut tak punya pilihan lagi selain menghadapi macet setiap harinya.

Dia telah menyusun strategi jika tak bisa Jl. S. Parman untuk pulang hingga 7 September mendatang. Singgih bakal mengambil rute alternatif melewati Jl. D.I. Panjaitan meski untuk itu ia menghadapi kepadatan arus lalu lintas di sepanjang Jl. Monginsidi  hingga simpang Joglo.

“Mau bagaimana lagi? Jalan sini [Jl. S. Parman] dututup lagi untuk perbaikan. Solusinya ya saya cari jalan lain. Harapan saya tentu proyek bisa berjalan lancar jadi rekayasa lalu lintasnya bisa selesai tepat waktu,” jelas Singgih, Jumat siang.