Pria Difabel Penjual Mainan Anak di Wonogiri Ini Atlet Berpretasi

Atlet difabel, Catur Suryanto, 33, menunjukkan medali emas dan perunggu di rumahnya di Wonokarto RT 004/RW 003, Wonogiri, Rabu (18/7 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
20 Juli 2018 14:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Catur duduk bersila di lantai beton beralas karpet plastik tipis di ruang depan rumahnya di Wonokarto RT 004/RW 003, Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Wonogiri, Rabu (18/7/2018) siang.

Kruk berdiri miring di sisi kirinya. Kruk itu alat penopangnya menggantikan peran kaki kirinya yang tak berdaya sejak usia empat tahun. Kekuatan kakinya direnggut penyakit polio sehingga tak bisa berkembang dengan baik.

Tokopedia

Pandangan Catur fokus melihat peralatan yang dipegangnya. Lelaki 33 tahun bernama lengkap Catur Suryanto itu tengah membuat gelang berbahan selang plastik berisi akar-akaran, dringo blenge, biji-bijian, dan minyak kelapa yang dia sebut gelang sawan.

Catur tak memedulikan alas lantai yang kotor. Istrinya, Wulansari Agustina, 32, beraktivitas di kamar yang menjadi satu dengan ruang belakang dan dapur. Rumah sederhana berukuran lebih kurang 35 meter persegi itu berdiri di lahan PT Kereta Api Indonesia  (KAI) dekat rel KA.

Catur dan keluarga kecilnya tinggal di rumah itu sejak 2007 silam. Dua dari tiga anak Catur yang masih kecil tidur di ranjang di kamar itu. Ruang depan dan belakang hanya bersekat setinggi perut orang dewasa.

Sekat batako itu dihiasi rangkaian bunga buatan Catur. Tak ada hiasan lainnya, kecuali dua boneka kecil berkalung medali emas dan perunggu yang terpaku di dinding papan berbahan komposit.

Dua dari sekian banyak medali yang diraih Catur itu manifestasi prestasinya. Dia merupakan atlet atletik dan bulu tangkis berkursi roda yang sudah malang melintang di kejuaraan nasional maupun internasional sejak 2008.

Dia memiliki koleksi lebih dari 10 medali emas, perak, dan perunggu. Tahun lalu lelaki kelahiran Purwodadi itu meraih satu emas di nomor bulu tangkis kursi roda kategori ganda dan satu perunggu dari cabang bulu tangkis tunggal Kejuaraan Nasional (Kejurnas) National Paralympic Committee (NPS) di Bandung.

Setahun sebelumnya Catur menggondol satu emas dan satu perunggu di nomor yang sama di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Jawa Barat. Dia juga menorehkan prestasi bagus saat mengikuti ASEAN Paragames 2011 di Solo.

Kala itu dia memperoleh dua medali perunggu dari cabang bulu tangkis kursi roda, nomor yang kali pertama dia ikuti. Peparnas 2012 di Riau dia meraih satu emas, satu perak, dan satu perunggu dari cabang atletik, yakni lempar cakram, lempar lembing, dan tolak peluru.

Atletik merupakan spesialisasinya. Pada Peparnas 2008 di Kalimantan Timur dia menyabet dua emas dan satu perak dari cabang tersebut.

Namun, sederet prestasi membanggakan itu diraih Catur bukan atas nama Wonogiri. Saat berlaga di Peparnas Jawa Barat 2016 dia membawa bendera Jawa Barat (Jabar).

Setahun berikutnya dia mengharumkan nama Tasikmalaya, Jabar, dalam Kejurnas NPC di Bandung. Padahal, Catur warga asli Wonogiri. Dia mengaku terpaksa mewakili daerah lain karena setiap akan mengikuti kejuaraan tak mendapat dukungan dari daerah sendiri, baik dukungan dana maupun moral.

Alhasil, saat ada pihak yang menawarinya membela daerah lain, Catur menerimanya. Daerah yang dibelanya memberi apresiasi atas prestasinya. Setiap meraih pedali emas dia diberi bonus Rp75 juta (bulu tangkis ganda), perak Rp40 juta, dan perunggu Rp25 juta dipotong pajak dan lainnya yang totalnya mencapai 25 persen-30 persen.

Bonus digunakannya untuk membangun rumah sederhana di Wonogiri dan membeli sepeda motor. “Setiap mau mengikuti kejuaraan saya berusaha melobi pemerintah [Pemkab Wonogiri] mengharap dukungan. Tapi tak pernah membuahkan hasil. Saya belum pernah melobi organisasi [NPC Wonogiri] karena saya tak tergabung dalam organisasi,” kata Catur.

Beberapa waktu lalu dia secara langsung mengirim surat kepada Bupati. Namun, dia diarahkan ke Dinas Sosial. Suatu ketika Catur ingin menemui Bupati di Sekretariat Daerah.

Meski menunggu dari pagi sampai sore dia tak bisa menemui orang nomor satu di Wonogiri itu. Catur hanya ingin meminta sedikit perhatian, seperti modal atau alat yang bisa digunakan untuk memproduksi bunga hias.

Sisa bonus dari hasil keringatnya tak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu dia membuat kerajinan bunga hias sejak lima bulan lalu.

Setiap hari dia menjual hasil karyanya menggunakan sepeda motor ke pasar-pasar, kantor, sekolah, dan sebagainya. Karyanya dijual seharga Rp25.000-Rp80.000.

Dia juga menerima pesanan kerajinan berukuran besar. Dia menghidupi istri dan ketiga anaknya hanya dengan uang Rp300.000-Rp400.000/bulan hasil penjualan karyanya.

Sebulan terakhir dia berinovasi membuat gelang sawan. Sebelum menjalankan usaha itu dia berjualan mainan anak-anak ke sekolah-sekolah.

“November 2019 mendatang saya akan ikut Peparda [Pekan Paralimpiade Daerah] di Jabar mewakili Tasikmalaya. Tawaran dari Tasikmalaya saya terima karena enggak bisa mengharapkan dukungan dari daerah lagi,” tutup Catur.

Sementara itu, Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, mengatakan selama dia menjabat dua tahun ini tidak ada atlet berprestasi dari Wonogiri yang membela daerah lain. Menurut dia, Pemkab tak pernah abai terhadap atlet.

Selama ini, dia memberi apresiasi secara pribadi kepada sejumlah atlet berprestasi tingkat nasional dan internasional. Kabid Kepemudaan dan Olahraga Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (DKOP) Wonogiri, Joko Nugroho, mengatakan jumlah atlet yang membela daerah lain tak banyak.

Jumlah atlet yang loyal terhadap Wonogiri jauh lebih banyak. Menurut dia, kasus atlet yang merasa tak mendapat dukungan biasanya bergerak sendiri. Padahal, jika menjadi anggota organisasi Pemkab bisa memfasilitasi.

“Kalau ada atlet yang merasa tak mendapat apresiasi, saya kira hanya persoalan komunikasi. Silakan berkoordinasi dengan kami,” ulas dia.