Bakul Bakso Bakar Wonogiri Naik Haji

Giman, penjual bakso bakar asal Jatisrono, Wonogiri, yang beberapa hari lagi menuju Tanah Suci untuk beribadah haji. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
20 Juli 2018 20:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Giman, 41, berdiri bersandar di pohon tepat di samping motor dengan gerobak bakso bakar miliknya, Jumat (20/7/2018) pagi. Matanya tak henti menatap pintu keluar SD 1 Jatisrono, Wonogiri.

Bunyi bel tanda pulang sekolah terdengar, ia pun membuka penutup anglo yang ia buat dari seng. Tangan kanannya mengambil arang yang ia letakkan di bawah gerobaknya. Ia siap menjemput rezeki dari bakso bakar jualannya.

Tokopedia

Hanya beberapa menit kemudian, murid-murid SD 1 Jatisrono pulang. Satu demi satu murid SD membeli bakso bakarnya.

Rezeki itu datang, ketika Wilarmi bersama anaknya membeli bakso bakar Giman. Dengan sigap, tangannya meletakkan puluhan bakso di atas anglo. Sesekali ia mengoleskan bumbu satai di baksonya yang ia letakkan tepat di tengah gerobaknya.

Seluruh pembeli telah terlayani, ia segera membersihkan gerobaknya. Ia tak mau gerobak dari seng tersebut kotor. Ia kembali bersandar di pohon, ia tak memedulikan baju lengan panjang warna birunya kotor.

Rombongan murid-murid datang kembali, sesekali mereka bercerita keseharian mereka di rumah. Tiba-tiba Giman menyela obrolan anak-anak kelas III SD tersebut.

“Jangan main handphone terus, belajar dan mengaji, Dik, supaya kelak menjadi anak yang pintar,” ujarnya dalam bahasa jawa krama.

Penjual bakso bakar yang setiap hari berjualan di depan sekolahan tersebut adalah sosok yang tekun dan pekerja keras. Kerja keras Giman terbayar tahun ini setelah namanya terdaftar dalam rombongan jemaah haji  kloter 42 Solo yang akan berangkat pada Minggu (29/7/2018) malam.

Berawal dari sahabat karibnya yang memberikan doa-doa ketika berada di Tanah Suci, Mekah, hatinya terguncang. Warga Dusun Badran, Desa Karang, Kecamatan Slogohimo, sekitar 30 km timur pusat Kabupaten Wonogiri itu pun akhirnya meluruskan niat untuk berangkat haji.

Ia sadar penghasilannya dari berjualan bakso bakar sejak 2007 yang hanya Rp80.000 setiap hari membuat tujuannya ke Tanah Suci menemui jalan terjal. Jangankan untuk menabung biaya haji, untuk menghidupi keluarga dengan dua anaknya saja sulit.

Ia sempat merantau ke Sumatra namun tak berhasil. Meski demikian, berbekal niat kuat dan pasrah sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa, pada 2010 ia mendaftar untuk memenuhi panggilan ke rumah Allah.

Ia mulai menabung Rp15.000 setiap harinya. Tak jarang cemoohan dan cobiran orang mampir ke telinganya. Namun semua itu tak membuat berkecil hati apa lagi patah semangat.

Cemoohan itu justru menjadi cambuk bagi Giman, ia semakin tekun bekerja. Terlebih, banyak orang yang lebih mampu darinya justru tak ada pikiran untuk ke sana.

Murid-murid SD mulai sepi, mereka sudah dijemput orang tua masing-masing. Giman bergegas menuju Masjid untuk menunaikan Salat Jumat. Air wudu masjid Desa Jatisrono menjadi pelepas dahaga dan lelah sebelum bertarung dengan teriknya matahari.

“Saya malu kalau sampai jadi omongan, tapi Insya Allah tujuannya baik nggih untuk memotivasi  yang lainnya. Saya tidak pernah bimbang saat menabung walaupun saya sering kali menemui kesulitan, saya yakinkan untuk mencari rido Allah,” ujar Giman saat ditemui Solopos.com di depan SD 1 Jatisrono.

Salah satu penjual makanan lainya, Sukidi, menilai Giman adalah sosok yang tekun dan pekerja keras. Selain itu Giman merupakan sosok yang taat agama.

Pembeli bakso bakar, Wilarmi, mengaku terkejut dengan kabar Giman akan naik haji. Ia berharap perjalanan Giman menunaikan rukun Islam kelima itu berjalan lancar dan selamat sampai tujuan kemudian pulang kembali ke Tanah Air.