Jembatan Padokan Ngemplak Dibongkar Putuskan Akses Solo-Boyolali

Pelajar menuntun sepeda melewati jembatan sasak yang dibuat sebagai pengganti jembatan Padokan di Sawahan, Ngemplak, Boyolali, Sabtu (21/7 - 2018). (Solopos/Arif Fajar S.)
22 Juli 2018 15:15 WIB Arif Fajar Setiadi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pembongkaran jembatan Padokan, Sawahan, Ngemplak, Boyolali, menyebabkan terputusnya akses dari Boyolali ke Solo maupun sebaliknya. Mobilitas warga dua wilayah itu bakal terganggu selama pembangunan jembatan yang memakan waktu 200 hari.

Warga dua wilayah itu kemudian berinisiatif membangun jembatan sasak sebagai jembatan darurat. Hal ini dilakukan karena kontraktor yang membangun jembatan tidak membuatkan jembatan pengganti/alternatif setelah jembatan lama dibongkar sekitar satu bulan lalu.

Tokopedia

Dengan dana swadaya, warga Kampung Seruni, Kadipiro, Banjarsari, Solo, dan warga Padokan, Sawahan, Ngemplak, Boyolali, bergotong royong membangun jembatan sasak dari bambu sepanjang sembilan meter dan lebar dua meter.

Pantauan Solopos.com, Sabtu (21/7/2018), warga dari dua kampung tersebut bergotong royong terus menyempurnakan jembatan sasak. Ada yang menambah penguat pada sisi kiri dan kanan jembatan, dan sebagian lagi meratakan tanah di sekitar jembatan.

Ketua RT 001/RW 020, Seruni, Kadipiro, Samsudi, 62, mengatakan jika warga tak berinisiatif membangun  jembatan sasak, mereka harus harus memutar sejauh 3 km-4 km untuk menyeberang ke Solo maupun ke Boyolali.

"Padahal banyak warga dari Solo dan Boyolali yang setiap hari memanfaatkan jembatan Padokan. Seharusnya kontraktor menyiapkan jembatan alternatif karena banyak anak-anak dari Boyolali yang sekolah di SD Seruni, SD Banyuagung, dan SD Bayan, Kadipiro,” ujar Samsudi ketika ditemui Solopos.com, Sabtu.

Dwi, warga Mojosongo, Jebres, Solo, yang baru saja menjemput adiknya dari SMP di Ngemplak, Boyolali, mengatakan sebelum ada jembatan sasak dia terpaksa memutar sejauh lebih kurang 4 km. “Sejak satu bulan lalu sebelum ada jembatan sasak harus memutar. Setelah tahu ada jembatan sasak ini sekarang bisa lebih dekat. Terima kasih buat warga yang sudah berkenan membangun jembatan alternatif ini,” ujarnya kepada Solopos.com, Sabtu.

Warga RT 001, Aris, yang berinisiatif membangun jembatan sasak mengaku dirinya bersama warga lainnya berkoordinasi dengan Ketua RT 001, RW 005 Sawahan, Ngemplak, Boyolali, Giyanto. “Saya merasakan sendiri sejak jembatan lama dibongkar harus memutar jauh, ketika saya usul warga lainnya merespons akhirnya berkoordinasi dengan Ketua RT 001 Sawahan dan dikerjakan sejak sepekan lalu,” terangnya.

Warga Seruni lainnya, Dian, mengatakan pengerjaan jembatan sasak masih terus dilakukan dengan mengecor di kedua sisi ujung jembatan agar rata sehingga masyarakat nyaman melintas di jembatan sasak tersebut. “Kalau memungkinkan akan dipertahankan kendati pembangunan jembatan Padokan selesai dibangun kembali.”

Ketua RT 001/RW 005 Sawahan, Giyanto, mengatakan dana pembangunan  jembatan sasak dari swadaya masyarakat dan dia juga meminta bantuan dari kontraktor. Untuk antisipasi kebutuhan biaya bertambah, warga membuka kotak sumbangan sukarela.

Sementara itu, minimnya rambu pemberitahuan tentang pembongkaran jembatan Padokan juga membuat sejumlah pengendara dari arah Solo kecewa. Menurut Agus Setiawan, pemilik bengkel Abenj Xtreme tak jauh dari jembatan, sehari setelah jembatan dibongkar ribuan pengendara kecewa karena tidak ada rambu pemberitahuan.

“Jembatan Padokan kan jalur utama penghubung dua kabupaten, kontraktor langsung bongkar tidak ada pemberitahuan, mungkin karena pengerjaannya dari Kabupaten Boyolali, jadi yang di Solo tidak diberi tahu,” jelasnya.

Pantauan Solopos.com dari sisi jembatan di Sawahan, Ngemplak, Boyolali, terpasang papan keterangan pengerjaan jembatan Padokan. Tercantum biaya pengerjaan Rp2.443.262.000 dikerjakan selama 200 hari kalender oleh CV Indrajadi, Boyolali, dan akan selesai 10 Desember 2018.