2 Begal Main Todong di Jebres Solo, Kabur Liat Korban Berdarah

ilustrasi pembegalan. (liputan6.com)
22 Juli 2018 17:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Marzuki Ahmad Fadhila, 17, kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba muncul dua orang tak dikenal mencoba menghentikan laju kendaraannya di perempatan Tugu Cembengan, Kelurahan Jebres, Jebres, Minggu (22/7/2018) sekitar pukul 03.00 WIB.

Dia tak bisa menghindari mereka karena dua orang yang berboncengan naik sepeda motor tersebut langsung mengambil posisi berhenti melintang di depan sepeda motornya. Marzuki pun lantas menepi di Jl. Kolonel Sutarto, seberang rumah duka Thiong Ting, Solo.

Sambil mencoba untuk tetap tenang, Marzuki berupaya menanggapi perkataan dua laki-laki itu. Hal yang dia sangka pun terjadi. Kedua orang berperawakan kurus tersebut memintanya menyerahkan semua uang  yang dia bawa.

Mendengar perintah itu, Marzuki tidak mau pasrah saja. Dia mengaku tak memiliki uang. Ternyata, kedua laki-laki yang menunggang sepeda motor Honda Beat warna hitam itu percaya saja atau tidak memprotes perkataan Marzuki.

Namun alih-alih pergi meninggalkan Marzuki, mereka kemudian meminta Marzuki menyerahkan handphone-nya. Remaja asal Desa Nggringo, Jaten, Karanganyar, itu menolak memberikan gawainya tersebut.

Dia sempat beralasan tak mau menyerahkan handphone karena takut tak bisa bertemu ayahnya yang akan dijemput pada saat itu. Dia butuh telepon genggamnya untuk memastikan lokasi penjemputan ayahnya.

Salah seorang di antara laki-laki tersebut sempat memberikan solusi kepada Marzuki agar mencatat saja nomor telepon ayahnya dan menelepon menggunakan telepon lain.

Marzuki tetap menolak memberikan telepon genggamnya. Saat itulah, salah satu dari penjahat  itu tiba-tiba mengeluarkan pedang. Pedang tersebut langsung ditodongkan kepada Marzuki.

Dalam keadaan panik, Marzuki spontan mencoba memegang pedang. Dia ingin memastikan pedang tak digunakan untuk melukai dirinya. Namun nahas, penjahat yang memegang pedang tersebut tiba-tiba saja menarik pedagang yang dipegang Marzuki hingga tangan kiri Marzuki teriris.

Tanpa diduga, dua orang yang berusaha merampas atau membegal Marzuki itu kabur setelah melihat darah di tangan Marzuki. Marzuki yakin dua orang pengendara sepeda motor Hoda Beat itu dalam kondisi mabuk.

Hal itu berdasarkan aroma tubuh atau mulut mereka yang berbau ciu. Tidak berselang lama setelah dua orang itu pergi, Marzuki mencoba melanjutkan perjalanan ke arah barat menjemput sang ayah di depan Kantor PMI Solo.

“Saya hanya luka di tangan akibat terkena samurai yang mereka acungkan. Pada saat itu saya sedang mencoba melindungi diri tapi tiba-tiba mereka menarik samurainya. Untuk barang dan uang, alhamdulillah aman. Jadi dua orang itu langsung pergi setelah melihat saya berdarah,” kata Marzuki saat diwawancarai Solopos.com, Minggu sore.

Setelah bertemu sang ayah di depan PMI Solo, Marzuki lantas diperiksakan ke IGD RSUD dr. Moewardi. Ayah Marzuki, Slamet Setiaji, 43, mengaku kaget melihat tangan anaknya bersimbah darah.

Setelah meminta perawat IGD RSUD dr. Moewardi menanganai anaknya, dia kemudian melaporkan kasus itu ke Mapolsek Jebres. Dia berharap Polsek Jebres menangkap dua orang yang membegal  anaknya supaya tidak meresahkan masyarakat lain.

Slamet menceritakan pada saat di Mapolsek Jebres, Minggu dini hari, dia bertemu juga dengan tiga bocah laki-laki yang mengalami hal serupa Marzuki.

“Jadi di Mapolsek saya bertemu tiga anak-anak sekitar usia SMP yang sedang ketakutan. Mereka mengaku baru jadi korban perampasan dua orang tak dikenal saat berada di perempatan Sekarpace. Ketika saya tanya ciri-ciri pelaku, mereka bilang menggunakan sepeda motor Beat warna hitam. Jadi sama dengan apa yang diceritakan anak saya,” jelas Slamet.

Saat dimintai konfirmasi, Kapolsek Jebres, Kompol Juliana, mengatakan polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Salah satunya dengan mencari rekaman kamera CCTV di kawasan itu.

Dia mengimbau masyarakat lebih waspada. Masyarakat diharapkan tidak pergi sendirian pada jam-jam sepi seperti tengah malam atau dini hari.