Partai Golkar Pertanyakan Pencalegan Istri Eks Sekda Solo

ilustrasi pemilu. (Solopos/Whisnu Paksa)
22 Juli 2018 22:15 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Istri mantan Sekda Solo Qomaruddin, Daryati, yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif melalui Partai Amanat Nasional (PAN) pada Pemilu Legislatif 2019  mendapat sorotan dari Partai Golkar.

Hal itu karena hingga Minggu (22/7/2018) Daryati masih tercatat sebagai Wakil Bendahara Bidang Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan DPD II DPRD Solo. Wakil Ketua Bagian Media dan Opini Publik DPD II Golkar Solo, Lucas Suryantoro, mengatakan memang ada beberapa rekannya di Partaui Golkar Solo yang pindah haluan ke partai lain.

Hal itu sudah dirapatkan di internal Partai Golkar Solo. Ia menyatakan pada dasarnya hal itu bukan menjadi masalah. Justru, ia bangga karena Golkar menyumbang kader ke partai lain.

"Yang penting pamit baik-baik dan menggunakan mekanisme partai. Misalnya ada surat pengunduran diri. Kami belum menerima surat pengunduran diri dari Bu Daryati. Beliau ini wakil bendahara. Beliau juga belum membikin LPj keuangan," ujarnya saat ditemui Solopos.com di Kantor DPD II Golkar Solo, Minggu.

Yang lebih riskan, dalam kapasitasnya sebagai bendahara, masih ada beberapa nomor rekening partai atas nama Daryati. Jika Daryati tak segera menjalankan mekanisme Partai Golkar, kemungkinan Lucas bersama pengurus DPD II Golkar Solo akan menyampaikan ke KPU dan Bawaslu Solo.

"Kami sebenarnya bangga karena kader Golkar diakui partai lain. Tapi untuk keluar, ada fatsun politik. Surat resmi harus melalui proses administratif. Ketua juga belum menerima [surat pengunduran diri Daryati]," terang Komandan Satgas Partai Golkar tersebut.

Selain Daryati, ada empat nama kader Golkar lain yang pindah partai. Mereka adalah K.P. Purwanto (maju sebagai caleg DPR dari Partai Berkarya), Ook Santosa (menjadi caleg DPRD Solo lewat PPP), Suratman Suryo Suwito, dan Triyanto (maju caleg DPRD Solo lewat Partai Gerindra).

Di antara empat tersebut, hanya K.P. Purwanto yang mundur baik-baik, menggunakan mekanisme partai jauh-jauh hari sebelum mendaftar sebagai caleg. Sekretaris DPD II Golkar Solo, Bandung Joko Suryono, menilai politik adalah urusan masing-masing.

Namun, secara etika politik ada hal yang dipertanyakan. "Kalau tak ada mekanisme seperti ini, bisa menimbulkan hubungan tak kondusif antarpartai. Apalagi yang masuk ke partai lain itu pengurus pleno Golkar. Mereka jauh-jauh hari sudah dipersiapkan jadi caleg. Ada yang mendadak. Dikira mau maju lewat Golkar, ternyata lewat yang lain," terangnya.

Ia berharap parpol lain yang mengambil kader Golkar juga menjunjung tinggi etika politik. Ia yakin parpol lain juga tentu akan kecewa jika Golkar mengambil kader mereka.

"Kami hanya berharap meskipun teman-teman kami ada yang ke partai lain, konstituen tetap berada di Partai Golkar. Tak perlu terpengaruh berpindahnya pengurus pleno ke partai lain. Anggota Golkar tetap solid. Mereka yang keluar, mereka sudah bukan kader terbaik kami," paparnya.

Kepada Daryati, ia mengimbau agar ada itikad baik menyelesaikan masalah administrasi. Ia meminta Daryati menyelesaikan kewajiban yang jadi tanggung jawabnya agar tak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Sementara itu, Daryati belum bisa dimintai konfirmasi.

 

Tokopedia