Remaja Klaten Menambang Pasir Tiap Akhir Pekan Demi Kuliah

Ari Yunanto, 16, berfoto di rumahnya Dukuh Karangbutan, Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten, Minggu (22/7 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
22 Juli 2018 21:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Usia 16 tahun bagi kebanyakan remaja adalah saatnya bersenang-senang, main bersama teman-teman, mainan HP, bersosialisasi di media sosial, bahkan tak sedikit yang sudah berpacaran.

Namun tidak demikian halnya dengan remaja asal Dukuh Karangbutan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, ini. Saat Solopos.com datang ke rumahnya, remaja bernama Ari Yunanto, 16, itu sedang menyapu lantai ditemani dendangan musik dangdut koplo.

Ia berbegas menyelesaikan pekerjaan dan menyambut Solopos.com lalu berbincang di ruang tamu. Menyapu lantai sudah menjadi pekerjaan rumah Ari selain mencari pakan rumput untuk sapi-sapi milik ayahnya.

Saat akhir pekan, pekerjaannya bertambah yakni menambang pasir di Kali Woro bersama ayah dan ibunya. Jarak lokasi tambang ke rumahnya sekitar satu kilometer.

“Hari ini pulang pukul 09.00 WIB. Berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB lalu menambang sampai pukul 09.00 WIB, kadang sampai pukul 13.00 WIB. Secukupnya saja,” ujar dia seraya beranjak dari kursinya untuk mematikan musik dangdut koplo.

Untuk pekerjaan tiga-empat jam, Ari biasanya mengantongi pendapatan  hingga Rp150.000. Jika dilanjutkan hingga pukul 13.00 WIB, ia bisa membawa pulang Rp400.000.

Tugasnya bermacam-macam mulai mengangkat batu, mengangkut pasir hingga memisahkan batu dan pasir dari tambang. Pekerjaan itu dilakoninya sejak kelas VII SMP. Ia berusaha keras agar pekerjaan itu tak sampai mengganggu waktu sekolah maupun belajarnya.

“Kalau capai pulang kerja, saya pakai buat tidur siang. Nanti bangun tidur sudah fresh lagi. Paling main dengan teman-teman dekat sini saja,” ujar bocah bertubuh ceking yang kini duduk di Kelas XI SMAN 1 Karangnongko itu.

Uang hasil pekerjaannya ditabung di warung dekat rumah. Kadang, ia menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli kuota Internet. Sedangkan untuk membayar sekolah, ia dibiayai orang tua dan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Tahun lalu, dari pekerjaannya  selama setahun, Ari berhasil mengumpulkan Rp2,7 juta. “Uangnya mau dikumpulin buat kuliah. Saya pengin kuliah di Jogja. Saya hanya ingin cari uang sendiri saja. Karena dekat tambang, saya ikut menambang bersama ibu dan bapak. Saya pengin mandiri,” beber Ari.

Di kampungnya, Ari tak sendirian. Setidaknya ada tiga teman sebayanya yang juga ikut menambang pasir Kali Woro. Saat Solopos.com menyambangi teman-temannya, rumah mereka dalam keadaan kosong.

“Saya enggak malu kerja menambang pasir. Toh pekerjaannya halal. Saya juga ingin mandiri jadi memilih bekerja,” terang Ari.

Keputusan Ari untuk bekerja didukung orang tuanya. Ayah Ari, Tukimin, 35, tak melarang anaknya bekerja selama tidak memberatkan dan tidak menganggu belajarnya. Hanya satu pesan ayahnya yang selalu dipegang erat-erat: hati-hati saat bekerja.

“Bapak cuma bilang ‘sing ngati-ati ya, Le [hati-hati ya, Nak],” tiru Ari.

Hal itu dibenarkan Tukimin. Ia memperbolehkan anaknya ikut menambang supaya tahu bagaimana kerasnya orang bekerja. Ia ingin anaknya menjadi pekerja keras, bukan anak manja. Apalagi, kini mencari pasir di Kali Woro semakin sulit.

Pendapatannya dari menambang pasir dan batu kian tak pasti saban harinya. “Kalau dia tahu kerja itu berat, dia kan enggak neko-neko. Karena dia mengalami sendiri susahnya orang tua bekerja di tambang,” kata dia.

Sebagai imbalan atas jerih payahnya, Tukimin memberikan upah kepada Ari. Ia hanya berpesan, uang itu jangan dihambur-hamburkan.

“Boleh buat jajan atau beli barang kesukaan tapi yang sewajarnya. Saya juga terbantu kadang enggak perlu ngasih uang jajan atau beli bensin. Kan dia pegang uang sendiri.”

Tukimin tidak mempermasalahkan anaknya ikut bekerja bersamanya. Bagi dia, yang utama jangan sampai mengeksploitasi anak untuk terus-menerus bekerja. Anak dibebaskan bekerja sesuai kemampuan dan kemauannya.

“Malah terpantau kalau bekerja sama orang tua. Kalau ada pekerjaan dia yang kurang, orang tua bisa menutupi kekurangannya. Hasil yang menjadi haknya juga saya berikan. Selain supaya senang, ia berlatih tanggung jawab mengelola uangnya sendiri,” tutur Tukimin.